| Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Allah swt. akan menambah kemuliaan kepada hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu’ karena Allah swt., Allah swt. akan mengangkat (derajatnya). (Muslim; Misykât)
Keterangan Dalam hadits ini terkandung tiga masalah, yakni: (1) Secara lahiriah, bersedekah itu akan mengurangi harta seseorang. Akan tetapi pada hakikatnya, hartanya tidak akan berkurang. Bahkan sebagai gantinya, orang yang bersedekah pasti akan mendapatkan ganti yang lebih baik di akhirat, sebagaimana telah diketahui dari ayat-ayat terdahulu. Bahkan ketika di dunia, sebagian besar balasan akan diperoleh, sebagaimana telah ditunjukkan dalam ayat ke-14 yang telah lalu. Pada ayat ke-20 ditegaskan bahwa sesuatu yang diinfakkan (di jalan Allah swt.), maka Allah swt. akan membalasnya. Keterangan ayat tersebut juga telah dikuatkan oleh beberapa hadits Nabi saw.. Sedangkan pada hadits yang kedua telah dituliskan tentang sabda Nabi saw. bahwa setiap hari, dua malaikat berdoa, “Ya Allah, berikanlah balasan kepada orang yang membelanjakan hartanya, dan binasakanlah orang yang menahannya.” Abu Kabsyah r.a. berkata bahwa Nabi saw. bersabda, “Saya bersumpah atas tiga masalah, kemudian akan saya beritahukan suatu masalah yang khusus kepada kalian. Jagalah baik-baik. Ketiga masalah tersebut adalah: pertama, harta seseorang tidak akan berkurang karena bersedekah. Kedua, barangsiapa dizhalimi namun bersabar, maka karena kesabarannya itu, Allah swt. akan menambah kemuliaannya. Ketiga, barangsiapa meminta-minta kepada orang-orang hingga membuka pintu, maka Allah swt. akan membukakan pintu kefakiran untuknya. Setelah tiga masalah ini, ada satu masalah yang akan saya sampaikan kepada kalian agar kalian menjaganya. Yakni, di dunia ini ada empat jenis manusia. Pertama, orang yang diberi ilmu dan harta oleh Allah swt.. Karena ilmunya itu, ia takut kepada Allah swt. Dan terhadap hartanya (yaitu ia tidak menggunakannya kecuali dengan cara yang diridhai Allah swt.). Ia menggunakan hartanya untuk bersilaturahmi, beramal shalih karena Allah swt., dan menunaikan hak-haknya. Manusia jenis ini mempunyai derajat yang paling tinggi. Kedua, orang yang telah diberi ilmu oleh Allah swt. tetapi tidak diberi harta oleh Allah swt., ia telah memiliki niat yang benar. Apabila ia mempunyai harta, ia berkeinginan untuk menafkahkannya untuk beramal shalih. Karena niatnya itu, Allah swt. memberikan pahala yang sama dengan golongan yang pertama. Manusia golongan pertama dan kedua ini seimbang dalam segi pahala. Ketiga, orang yang telah diberi harta oleh Allah swt. tetapi tidak diberi ilmu. Ia melakukan kesalahan dengan hartanya (yakni membelanjakan hartanya untuk hal-hal yang sia-sia, tidak perlu, main-main, dan menuruti hawa nafsunya). Ia tidak takut kepada Allah swt. dengan hartanya, tidak bersilaturahmi, dan tidak mengikuti yang hak. Orang yang demikian ini, pada hari Kiamat akan mendapatkan tempat yang paling buruk. Keempat, orang yang tidak diberi ilmu dan harta oleh Allah swt.. Ia berangan-angan, apabila dirinya mempunyai harta, maka ia akan menggunakannya seperti Si Fulan (orang ketiga). Orang ini mendapatkan dosa karena niatnya. Orang seperti ini bernasib sama dengan orang golongan ketiga.” (Misykât, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi rah.a.. Ia mengatakan bahwa hadits ini shahîh). Ibnu Abbas r.a. berkata bahwa Nabi saw. bersabda, “Harta tidak berkurang dengan bersedekah. Dan apabila seseorang mengulurkan tangannya untuk bersedekah (maka sebelum harta tersebut sampai ke tangan orang fakir, harta tersebut sudah sampai di genggaman Qudrat Allah Yang Mahasuci). Dan barangsiapa mengulurkan tangannya untuk meminta-minta, padahal tanpa meminta pun ia sudah cukup, maka Allah swt. akan membukakan baginya pintu kemiskinan.” (At-Targhîb). Qais bin Sila’ Al-Anshari r.a. berkata bahwa saudara-saudaranya telah mengadu kepada Nabi saw. tentang dirinya yang banyak berbuat mubadzir dan menggunakan harta dengan boros. Maka ia berkata, “Ya Rasulullah, saya menggunakan bagian dari kebun saya dan menginfakkannya di jalan Allah swt., serta menjamu orang-orang yang mengunjungi saya.” Lalu Rasulullah saw. menepukkan tangan beliau ke dada Qais bin Sila’ Al-Anshari r.a. sambil bersabda hingga tiga kali, “Belanjakanlah hartamu, maka Allah swt. akan membelanjaimu.” Tidak berapa lama kemudian, ia berangkat dalam suatu perjalanan jihad. Ia telah memiliki kendaraan sendiri, dan dialah orang yang mempunyai kekayaan yang paling banyak dibandingkan orang lain di kalangan kaumnya. (Targhîb). Mereka yang menginfakkan hartanya dengan penuh perhitungan tidak memiliki harta seperti yang dimilikinya karena ia bersedekah tanpa perhitungan. Jabir r.a. berkata bahwa Nabi saw. bersabda dalam khutbahnya, “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah swt. sebelum kamu meninggal dunia, dan bersegeralah kamu kepada amal kebaikan sebelum kamu sibuk dalam pekerjaanmu masing-masing, dan kuatkanlah hubunganmu dengan Allah swt. dengan memperbanyak dzikir. Perbanyaklah sedekah, baik dengan terang-terangan maupun dengan diam-diam agar kamu diberi rezeki oleh Allah swt., ditolong, dan kerugianmu akan diganti.” (Targhîb). Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, “Mintalah pertolongan rezeki melalui sedekah.” Sebuah hadits menyebutkan bahwa sedekah akan memperbanyak harta. (Kanzul-‘Ummâl) Abdurrahman bin Auf r.a. berkata bahwa Nabi saw. bersabda, “Demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku bersumpah dengan tiga perkara: pertama, dengan bersedekah harta seseorang tidak akan berkurang. Kedua, hamba Allah swt. yang dizhalimi tetapi bersabar untuk memaafkannya, maka pada hari Kiamat, Allah swt. akan menambah kemuliaannya. Ketiga, tidaklah seorang hamba membuka pintu untuk meminta-minta, kecuali Allah swt. akan membukakan pintu kefakiran baginya.” (At-Targhîb). Abu Salamah r.a. juga meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, “Sedekah itu tidak mengurangi harta, maka bersedekahlah.” (Ad-Durrul-Mantsûr). Secara lahiriah, yang dimaksud tidak berkurang adalah bahwa Allah swt. akan memberi ganti yang lebih baik dengan sangat cepat. Habib Ajami rah.a. adalah seorang syaikh yang sangat terkenal. Pada suatu ketika, istrinya telah menyiapkan tepung gandum untuk membuat adonan roti. Ia pergi ke rumah orang lain untuk meminta api. Ketika ia meminta api, datanglah seorang pengemis, kemudian Habib Ajami rah.a. memberikan tepung tersebut kepada pengemis itu. Setelah istrinya pulang hendak membuat roti, betapa terkejutnya ketika tepung yang telah disiapkannya sudah tidak ada. Istri Habib Ajami rah.a. bertanya kepada suaminya, dan suaminya menjawab, “Tepung itu telah saya sedekahkan.” Mendengar jawaban tersebut, ia berkata, “Subhânallâh, engkau tidak tahu bahwa hanya tepung itu yang ada untuk hari ini di rumah kita. Sekarang, apa makanan untuk kita? Kita juga memerlukan makanan.” Sebelum ia menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba datanglah seseorang dengan membawa satu panci besar yang penuh berisi roti dan semangkuk besar yang penuh dengan lauk daging.” Habib Ajami rah.a. berkata, “Lihatlah, begitu cepat tepung berubah menjadi roti. Lauknya pun ada sebagai tambahan.” (Raudh). |
Filed under: Khasiat Sedekah