MAJAPAHIT = ISLAM DAN LAMBANGNYA

Kepada para cucu di seluruh Tanah Nusantara

Aku Panembahan Metho dari Dusun Tegalsari tlatah Daulah Islam Mataram yang menjadi bagian dari MAJAPAHIT WILWATIKTA DARUSALAM… .

Ketahuilah cucuku Majapahit …wilwatikta adalah Darus salam…
Agar jelas kukirimkan dalam attachment lambang majapahit yang masih terpasang pada makam trah Majapahit di pelosok negeri ini…..

Tolong kau perhatikan baik-baik… lambang kejayaan Nusantara ini…
Lihatlah kata ALLAH, ADAM, MUHAMMAD, TAUHID, DZAT, SIFAT, ASMA, MAKRIFAT…
APA KAU KIRA LELUHURMU MENGGUNAKANYA SEMBARANGAN SEBAGAI aksesori belaka !

Majapahit adalah pertahanan bersama di tlatah Asia Tenggara… harap kau tahu … apakah kiranya leluhurmu mau kau tuduh pemimpi asal-asalan…..berwacana seperti perilaku intelektual jaman kini….?
Lihatlah lambangnya pada cover buku Denys Lombard sengajakah dibuat terbalik dan outline diperlebar sehingga tak terbaca….. Silahkan kau putar 180 derajat …. kau akan mengerti cara bacanya yang benar……
Apakah kaum kolonial yang akan kau percaya ? Atau penerbitnya yang juga sedikit ceroboh dan lupa ?…….

Cucuku…… Malaysia juga bagian dari kaukus pertahanan bersama bernama MAJAPAHIT WILWATIKTA DARUSALAM… ..
BAHKAN RAJAMU DI JOHOR ADALAH PUTRA keturunan Syekh Agung Kyai Anom Besari Ponorogo dari garis Majapahit Browijoyo 12…. (ingat Browijoyo majapahit masih berlanjut bukan saja ke-5 )

Bahkan Trengganu adalah nama untuk mengingat Sultan Trenggono DI DEMAK …..Bintoro. … armada laut Majapahit… .

Majapahit adalah pertahanan bersama dan pelindung bersama Asia Tenggara… jika kau mengerti….

Majapahit tak bisa kau lupakan begitu saja cucuku…
maka ziarahilah leluhurmu yang terbaring di makam Troloyo Majapahit di Mojokerto… .. leluhurmu adalah muslim apa kau akan ludahi mereka …?
HANYA kaum muslim yang harus dikubur bahkan menghadap utara / kiblat dan bukan dibakar dan dikremasi seperti yang lain…..

Sering-seringlah ke makam agar kau bisa belajar sejarah dan kearifan jangan dulu kau mengutuknya dengan bid’ah dan kemusyrikan … itu ajaran yang disokong Inggris di tanah Arab yang gersang abad 19 ..
Penjajah takut kita sadar sejarah….
Kolonial takut kita bersatu dalam sikap ….

Lihatlah makam Majapahit … di Trowulan bertuliskan epitaph… laailaha illa alloh muhammadar rosulullloh. ….
dan sebagian bertuliskan Arab pegon Melayu…. para wakil anggota dewan kerajaan dari tlatah Sumatera dan Melayu…..

FAKTA DAN DATA perlu kau cari sebelum menuduh dengan tanpa mau mengerti

AKU ….TUNGGU KAU DI MATARAM ….

Donga lan salam soko eyangmu
Panembahan Metho
SURYO MAJAPAHIT

Sumber: gontorians@yahoogroups.com

About these ads

62 Tanggapan

  1. wah masa ?? terlalu di hubung2kan deh soal majapahit ini,……i dont think so…sorry mas bro,.hehehehe

  2. mungkin kita berbeda memahami ini…. tapi saya menangkap semngat anda .. Panembahan Metho…yah … kelak ketika Majapahit berdiri kembali sebagai kekuatan dengan nama yang lain … dan ketika nama Majapahit telah di pakai kembali …. anda akan saya tulis sebagai salah satu pujangga besar majapahit yang pernah ada ,,, teruslah beropini tentang kebesaran majapahit pujanggaku … biarkan para anjing itu menggonggong tanpa menyadari apa yang ada di belakang mereka … kemanapun saya pergi ke nusantara pula akan kembali … Ttd Keris Gandring.

  3. As salaamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatu.
    Salam sejahtera kepada saudara-saudara Muslim.

    Panembahan Metho yang saya hormati, saya mendapati blog saudara ketika sedang melengkapi data penelitian yang sedang saya lakukan dengan topik yang sama: Masuknya Islam di Tanah Indonesia yang kemudian juga menyentuh ranah kemungkinan Majapahit adalah kerajaan Islam. Penelitian yang sedang saya lakukan ini bersifat independen dan murni dengan latar belakang ilmu sejarah, maka saya tidak hendak mengambil kesimpulan terlalu cepat. Penelitian ini juga menggunakan sumber-sumber yang berasal dari luar negeri, termasuk negara-negara Timur Tengah dan negara-negara Asia lainnya. Alhamdulillah, mereka sangat membantu penelusuran ini.

    Bisakah kita berbicara lebih banyak mengenai ini? Saya tunggu balasannya segera.

    Salam buat para ustadz di sana.

    As salaamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatu,
    Arya A. Sadhana

    R. M. Arya A. Sadhana Kusumo Handoyo

  4. Barangkali ada baiknya kami mengundang yang serius menekuni sejarah majapahit. Kami juga ada kajian majapahit di PDM Kota Yogyakarta, bukti2 yang sdh kami temukan cukup lumayan, selain Surya Majapait, juga koin dan kitab2 babad yang mendukung seperti yang di”hatur”kan Panenbahan Metho. InsyaAllah kita tidak buru2 berkesimpulan. Tapi dari beberapa penemuan itu semakin kami haus untuk membuka hijab. Semoga Allah memberikan petunjuk.

  5. Nuwun sewu, Panembahan Metho kenal kalih Sayidinna Herman Ma’ruf ? Bales Nggih !

  6. denger2, ada makam mahapatih gajah mada di sekitar grojogan sewu karang anyar, benarkah itu?
    kalau ada makamnya, kemungkinan besar beliau muslim, karena tidak di kremasi/ dibakar.

    • Hindu tidak hanya di bakar ,di kubur pun ada tergantung pemeluk orang2 hindu ..tujuan dibakar agar unsur2 jasad / bhuwana alit / badan kasar yang berasal dari Panca Maha Bhuta : tanah, api, air, udara, dan akasa segera menyatu dengan bhuwana agung / alam semesta , kita ini adalah bhuwana agung begitu jg sebaliknya sehingga segera bisa menyatu dan cepat berenkarnasi, jaman dulu jika orang Hindu mati mereka biasanya minta kalau mati jangan langsung di bakar biarkan dlo beberapa tahun untuk mengabdi kepada siva dan saktinya Durga sebagai dewa pelebur, di bali pun ada yang tidak di bakar seperti di trunyan/ kintamani ..karena tempat mereka dekat gunung dan danau yng di sucikan takut mengotori kesucian gunung dan danau. kenapa di sucikan lihat saja di jawapun masih banyak tumpeng pd saat syukuran atau weton mereka secara tidak langsung menggunakan simbol gunung sebagai perlambang kemakmuran / stana para dewa. danau2 inilah yang mengaliri persawahan di bali ynag di sucikan, dan jg sejarah jayaprana dan layon sari pun ada kuburannya dan itupun cuma monumen kuburan tapi mereka sudah di bakar.. dan itu jangan anda anggap kuburan .. karena bilau telah di pralina / di bakar tujuan di bakar adalah untuk mempercepat unsur alam kembali, tentang kuburan itu hanyalah monument tempat moksa beliau dan bukan di sebut kuburan ..di Bali bukti2 perjalan dwijendra dari tanah jawa ke bali pun sangat banyak monumentnya ..jadi jangan asal menghubung-hubungkan .. carilah kebenaran jangan cari pembenaran..belajar agama bukan dari status kelahiran tapi mengetahui ajaran lain dengan tanpa membawa2 agama sendiri.. dan berpikirlah positive. kapan kalian mau belajar semua kalian bilang milik kalian .. kasian budaya jawa sekarang mau di anngap budaya arab ..apa kalian gk bangga dengan budaya jawa yang penuh dengan seni , ukir2an , tari2annya ,tutur kromonya dengan nilai local genius ..? daripada budaya arab dengan kerusuhannya .dan disini saja kalian benarnya sudah menilai kalau budaya islam anti melukis, meggambar, meniru wajah manusia, gending2, ukiran patung2 sastra… apa itu yang akalian inginkan seperti arab..? baik..kalian baca kitab bahwa nabi kalain adalah beliau..apakah kalian sudah mengenalnya ..? tapi apa kalian tidak punya leluhur yang jelas2 berasal dari leluhur kalian sendiri yang kalian lebih mengenal sejarah dan lahir mati di tanah kalaian . bodoh kalau kalian cuman di kenalkan saja dari sebuah buku…!!!!janganlah tanah jawa berubah menjadi gurun dan penuh dengan kebencian apalagi daerah timur tengah ynag penuh dengan darah anda bawa ke tanah nusantara yang subur ini

  7. Setahu saya dan logika sejarah: maka MAJAPAHIT itu adalah JAWA, bukannya islam/kristen/hindu/buddha (hindu&buddha mungkin hanya pengetahuan sebesar 1% dari 100% JAWA), karena agama2 yg sekarang ada di jawa itu dibawa oleh para pedagang-pedagang asing yang lagi pada cari untung di tanah jawa. Sejarah nusantara ini sudah dipuntir sedemikian rupa oleh kepentingan golongan/budaya (yg bukan berasal dari nusantara) untuk pola2 meraih kekuasaan lokal (kejayaan dan ekonomi), berasimilasi sedemikian rupa hingga saat ini, dan hasilnya adalah Kebobrokan Moral dan Mental Bangsa. Diakui atau tidak, bangsa ini sudah kehilangan karakter aselinya (nusantara), dan lebih senang menyandang karakter bangsa lain (eropa, arab, amerika, dll).

  8. dari mana ceritanya kok surya majapahit lambang dari islam,….???? surya majapahit yang di bilang lambang islam itu ya editan bukan yang asli ya sah-sah saja bilang begitu. tapi surya majapahit yang asli adalah sebuah lambang hindu yang mengambarkan dewata nawa sanga yang meliputi sembilan mata angin. dan majapahit di sertai dengan kebudayaan & seni yang luar biasa,…jadi tidak diragukan lagi majapahit merupakan kerajaan hindu dan surya majapahit bukan lambang islam,……….

    • @ Ksatria: saya sangat setuju dengan apa yang diutarakan oleh Mas wilwatikto. Iki ngawur dan ini termasuk HOAX (pembodohan oleh orang Bodo).

      Lambang kebesaran Majapahit “Suryo Mojopahit” secara logika tidak akan mampu dibuat oleh Umat Muslim yang tidak mempunyai seni dalam bidang memahat karena memahat adalah seni menvisualkan sesuatu agar yang di pahat sesuai dengan apa yang di visualisasikan oleh pemahat.

      Islam tidak mempunyai lambang. hanya mampu merubah PURA menjadi masjid, tidak mempunyai seni apapun kecuali Tari perut dan klothekan memakai rebana (inipun diragukan).

      Kalo bahasa sekarang “Anda itu SOTOY” and GOKIL Abiz”

      Ditertawakan sama leluhurmu wahai yang ngaku panembahan Metho.

      • Kayaknya ki sanak ini yg sotoy dan kurang piknik kayak kodok di dlm tempurung. Coba lihat negeri2 Muslim spt Turki, Mesir, Asia Tengah, dsb. Banyak sekali hasil karya seni ukir dan pahat dlm bentuk kaligrafi. Lagipula, tari perut itu tradisi Arab jahiliyah bkn dari Islam.

        Anda sebaiknya belajar dulu sejarah dunia dan sejarah Islam sblm kasih komentar. Malu-2in aja….

      • Jgn kau umbar kebodohanmu disini karna akan semakin membuat dirimu malu. Bumi nusantara adalah tmpatnya aturan langit diterapkan dari zaman nabi NUH, SULAIMAN, IBRAHIM (leluhur nusantara), jadi hal yang wajar klo islam sangat mengakar dan ber ideologi di bumi nusantara ini. sejarah nusantara dirusak oleh kepentingan penjajah Belanda yg hendak menjauhkan umat tauhid dari SANG KHOLIK. seakan-akan islam datang ke Indonesia sbgai Pendatang dan perusak. Islam itu dinamis sperti air kemanapun pergi akan mengikuti bentuk wadahnya tapi tidak merubah sifat prinsipnya.

  9. Kang Metho,
    waktu ziarah kakek dr bapak di banyu urip”begelen”,purworejo,jateng.. apakah ada orang keturunan dr majapahit daerah itu???

  10. menarik juga ulasan anda,,kalo lambang surya majapahit asma tuhan anda.. tp sah sah saja setiap orang bs beropini .perlu saya tekankan lg bahwa lambang majapahit itu merupakan perlambang?simbol2 “dewata nawa sangha”, bila anda berupaya untuk tetap ingat terhadap jati diri nusantara sebenarnya, saya salut! jauh sebelum agama anda dtng ke nusantara. ibarat kata anda ingin jati diri majapahit tp tdk mengakui hindu dalh agama yg dianut majapahit.jdlah anda kait2kan majapahit dikait2kan dgn islam..

  11. Ngawur iki,sma aja menyangkal klo hindu itu pernah bsr di jawa^^

  12. Rahayu Jagad Alam Sak Isine.
    Assalmualikum ,
    Setelah membaca tulisan /artikel di atas jujur saya meragukan kedalaman pemikiran anda tentang sejarah nusantara maupun Majapahit, karena melihat lambang pun dan komunitas anda se-enak pikiran menyimpulkan seperti yang anda tulis.
    Memang sebelum Islam masuk ke Nusantara Ketahuidan kepada Allah telah dipeluk oleh para leluhur kita. Para leluhur kita menyebutnya Sang Hyang Manon untuk artinya monggo panjenengan cari sendiri.
    Sehingga para penyebar agama Allah (terutama dari jazirah Arab pun dibuat termangu-mangu) karena pada saat itu kehidupan di Nusantara (jawa khususnya) tidak seperti jaman JAHILIYAH ketika sebelum Rosullulah meneggakan ahklaqkul kharimah di Arab. Tidak ada pembunuhan terhadap bayi perempuan, tidak ada penyuguhan istri pada tamu dan masyarakatnya sudah dapat hidup berdampingan dengan damai (sama ketika Rosul menjadi Amir Mukminin di tanah Haram), begitupula ketika para penyebar agama Islam masuk ke nusantara, mereka diterima tanpa hunusan pedang. Karena ketinggian adat-istiadat di nusantara (jawa khusunya) yang ISLAMI maka hanya golongan-golongan tasawuf saja yang tidak kesulitan Penyebarkan Agama Allah di Nusantara.
    Begitulha ringkasan yang sedikit sekali yang bisa saya bagi.
    Kebenaran hakiki bukan milik saya ataupun anda,kebenaran hakiki hanya milik ALLAH SWT,amin
    mohon maaf jika ada yang kurang berkenan..
    wassalam,
    Rahayu jagad alam saisine

  13. Menurut kmi mgk anda2 bnr brgkat dng sgla pngetahuan anda prna baca, dengarkan srta liat………Tp yg lbh ptg mnurut kmi yait appun agama qt, yg ptg jng keasikan spt skr ini yaitu taklik dng simbol2 impor……….Mari sdr2q snusantara, qt jadikan nile2 luhur dr nenek moyang kita sbg rujukan budipekerti luhur qt……….QT PST BISAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

  14. menurut saya majapahit itu nya sebagian besar penduduknya beragama hindu ato budha dengan peningalan candi2 dan tempat2 sembahyang untuk dewa dewi…yang jelas gak ada yang bernuansa arab….sedangkan islam sendiri adalah masuk yang trakhir ke nusantara.. agama islam masuk ke indonesia justru dari pedagang cina bukan arab…..kita juga gak pernah tau trnyata para walisongo itu keturunan china semua…..bahkan jika bertemu bersama kadang2 mereka saling memanggil dengan nama china mereka…..mereka sebenarnya tujuanya ingin seperi dinasti ummayah di tanah jawa dengan cara mengislamkan penduduk jawa yang kala itu beragama hindu,budha,,,,,,jadi jangan mencari2 yang tidak ada….bung!!

  15. ngapain mbahas yg udah lewat ,pikir cara untuk maju buka peluang usaha,jadikan negara ini kaya
    di negara ini kita hidup dan bekerja
    Di negara ini kita makan dan berbahagia

  16. ” Perlambang Roda Cokro Panggilingan..(Surya Majapahit bermakna ALLAH, ADAM, MUHAMMAD, TAUHID, DZAT, SIFAT, ASMA, MAKRIFAT).., Memutarkan roda dunia kearah dan menuju Mardhotillah Sejati. Akan membentuk dan berwujud menjadi Wiku Suci dan Pendito sakti, Pemimpin umat manusia dalam menunaikan tugas sucinya sebagai persembahan suci/ dharmasiksa ke hadirat Allah SWT. Sehingga dengan karenanya, Ia menjadi contoh dan tauladan, memberi tuntunan dan pimpinan kepada masyarakat sekelilingnya.. Allahumma taqobbal minnaa, yaa arhamarraahimiin.. Amien…”

  17. @ ki sabdo palon, di/pada 4 Juli 2010 pada 6:32 pm Dikatakan: r

    Kayaknya ki sanak ini yg sotoy dan kurang piknik kayak kodok di dlm tempurung. Coba lihat negeri2 Muslim spt Turki, Mesir, Asia Tengah, dsb. Banyak sekali hasil karya seni ukir dan pahat dlm bentuk kaligrafi. Lagipula, tari perut itu tradisi Arab jahiliyah bkn dari Islam.

    Anda sebaiknya belajar dulu sejarah dunia dan sejarah Islam sblm kasih komentar. Malu-2in aja….

    Ksatria Menjawab: Kisanak, Saya sudah lama tinggal di luar negeri dan mindset saya sangat terbuka untuk semua ilmu pengetahuan dan tentunya “Logika”. Anda bilang kalo di Mesir, Turki, Asia tengah adalah negara muslim….lihat sejarah boss….mereka berbudaya muslim karena budaya sebelumnya sudah dirusak oleh muslim, termasuk juga majapahit….yang dihancurkan oleh anaknya sendiri si Raden Patah berani melawan ayahnya sendiri karena ayahnya dianggap musrik karena agamanya Hindu yang tidak sesuai dengan apa yang ditulis di Alquran.

    Tradisi yang jelek diakui bukan milik islam, (tari perut). Sayang, sejarah Islam di Indonesia adalah sejarah yang “hitam”. DI/TII, dan lain2 yang melakukan pembrontakan ingin mendirikan negara Islam (Ingin menguasai seperti waktu Raden patah menghancurkan Majapahit) dan tidak mengakui Negara Kesatuan yaitu NKRI.

    Saya rela malu tidak mempelajari sejarah islam, asal saya tetap menjujung tinggi sejarah Lokal.

    Saudaraku ki sabdo palon (palsu), Anda dilahrikan di Indonesia tetapi cara pikir anda sudah “terdoktrin” . Coba reset ulang mindset…anda dan telusuri leluhur anda beragama apa? maka anda akan tahu apa itu artinya “MANUNGGALING KAWULO GUSTI” Ajaran Syeh Siti Jenar yang dianggap sesat, padahal itu adalah ajaran kebenaran, yang sebenarnya adalah TUJUAN HIDUP MANUSIA , yaitu bukan surga seperi umat muslim tetapi “MOKSANTRAM JAGADITA YA CA ITI DHARMA” Atau orang awam bilang “MOKSA” kembali kepada sang pencipta. Bukan di Surga sama para perawan, mandi air susu…..Bull shit…..Hoax and Fucking asshole Mindset.

    • sejarah yang telah anda pelajari adalah doktrin kolonial, siapa yang berkuasa, dialah yang akan menyusun sejarah…cobalah anda pergi ke trowulan, di sana terdapat museum dan makam keluarga kerajaan majapahit, mungkin anda mendapatkan pencerahan akan sejarah…

    • anjing kau ksatria

    • @ Ksatria : Tujuan hidup manusia adalah Kembali kepada Tuhan di surga, dan surga itu ADA. Yang harus manusia lakukan adalah berada di jalan yang benar agar bisa mencapai hal tersebut.
      Ada pembeda antara manusia yang mau menjalani hidup secara baik&benar, dengan manusia yg menjalaninya tidak benar.
      Mengenai lambang yang menjadi perdebatan itu, perlu diperhitungkan lagi & diperkuat dengan bukti2 lainnya.
      Tidak menutup kemungkinan majapahit yang awalnya hindu, pada masa sebelum keruntuhannya sudah mulai berganti ke islam, dan pada masa itu pula melakukan perubahan2 simbol2 dan membuat peninggalan2 sejarah lain.
      @All : perdebatan sejarah tak akan pernah ada habisnya…. sesungguhnya ada hal lain yang jauh lebih penting dari itu.. salah satunya menjaga kesatuan & kerukunan kita semua..

  18. mohon maaf ,,mengapa kita mennghabiskan waktu dengan memikirkan apakah majapahit hindu? islam.? memikir lambang lambang yang tdk berarti apa apa..
    seandainya majapahit itu hindu ya biarkan saja toh memang sdh lewat.
    jika majapahit itu islam ya gak apa apa. toh sdh lewat.
    saat ini sebagai umat islam marilah kita berjuang dalam menegakkan agama islam sehingga ke depan akan menuai kejayaan..
    saya berpikir orang yang punya pikiran gotak gatok..menghubung hubungkan sesuatu yang telah lewat pasti mempunyai waktu yang berlebih…

    sebaiknya gunakan waktumu untuk mempelajari agama islam dengan baik.
    melaksanakan
    dan berdakwah amar ma ruf nahi munkar
    itu lebih berguna
    sekali lagi
    gunakan waktumu untuk kemajuan agama dan umat

  19. @ ranger1 said 3 weeks ago:
    anjing kau ksatria

    Ksatria Menjawab: Apapun agamamu ranger, saya tidak akan mengatakan dirimu “ANJING” juga, karena Seekor ANJING lebih mulia daripada anda. Bahkan ada judul sebuah buku “BELAJARLAH DARI ANJING”. Anjing tidak akan menggigit tanpa sebab. Karena Anjing pun tahu hukum Sebab-akibat Aksi dan Reaksi.

    Pesan saya: ” Pakailah Body protector” sebelum orang yang anda katakan “anjing” seperti saya ini menggigit anda.

  20. halah,,mlah pda ribut??suryo majapahit mw brdsarkan islam,mw brdsarkn hindu,,,so what??knp klian yg ribut??kta bda agma ajh ga rbut,knp cm bda pngrtian msa lalu ajh rinut??knp jg ad persepsi baru tntang suryo majapahit ga kta trima?/spa tau mang bnar adany,,,ga da yg tau kn msa lalu itu sprti aph??knp mlah rbut skrg??lok lo smw hdup d jman majapahit ea trsrah lo ributin msalah suryo majapahit,,ga usah bwa2 agama,sling ngjek lg,,bagiq agamaq,baimu agamamu,,,!!

    • ya ini taqiya islam di mana2 selalu mengakui smua adalah sumber islam dan penuh kebohongan dan kebodohan.. lihat di mana ada islam negara akan mundur bukan maju… semua budaya asli akan hancur ckckc slim..slim seneng sekali kau berbohong dan munafix

    • Bagiq agamaq,bagimu agamamu filsafat murahan penuh dengan kebodohan dan kegelapan, bagaimana klo agamu menghalalkan menyuruh menyakiti agama lain …?sedangkagkan agama yang lain melarang menyakiti agama lain…sungguh egoisnya peryataan itu ..sapa yang buat manusia atau dewa..kah..? lain di Hindu .. tat twam asi : Aku adalah kamu, kamu adalah aku …janganlah kamu menyakiti jika tidak ingin di sakiti.. jadi pernyataan bagiq agamaq, bagimu agamamu adalah egosentris dan cara berpikir double standar wek….stupid use your brain.. gunakan akal sehat …loe jangan di dengkul

  21. Mas…mas…
    Kalo mo dakwah…ya dakwah aja…gunakan fakta dan ajaran yg tepat…
    Kalo mo ngomong sejarah, tolong dibahas diruang sejarah yang ilmiah…

    Aku belum bisa menolak atau menerima pernyataan sampean…tapi yang aku tau, ini masih dalam tataran spekulasi…bahkan dalam ruang akademik sejarahpun hal ini masih belum bisa diterima…

    Jangan asal klaim…dakwah islam nggak butuh klaim-klaiman sejarah yg masih diragukan model gini… Ini justru yg membuat islam tampak seolah begitu serakah dan tidak bisa objektif atas realitas…

    Jangan bikin malu dunk mas…atau tulisan ini sengaja sebagai provokasi…?

  22. Memang untuk meluruskan semua hal tentang sejarah kerajaan hanya bisa diluruskan dengan muncul nya kerajaan baru (Kerajaan Nusantara) seperti ramalan2 yang ada di masa lalu tentang munculnya kembali kerajaan baru (kerajaan Nusantara), sehingga bisa kita tanyakan akan kebenaran dari cerita sejarah dimasa lalu…, Para leluhur (Raja-Raja) dari kerajaan2 masa lalu (Alhamdulillah) telah merestuinya dengan beberapa ciri-ciri benderanya (kerajan Nusantara): sisi kanan gambar naga, sisi kiri singa, tengah pohon kurma yang disilang dengan Pedang arab (pedang zulfikar). Agar dapat melihatnya, gunakan dengan kemampuan bathin (melihat alam gaib dengan mata bathin maupun dengan meraga sukma) dilakukan dengan hati yang bersih, tulus dan ikhlas…, saat melihatnya diharapkan jangan terkejut jika seandainya dalam pengelihatan tersebut (kemampuan bathin) mampu melihat lebih kedalam lagi, “ternyata… Kerajaan nusantara yang kita tunggu sudah ada (beraktifitas layaknya sebuah kerajaan dimasa lalu namun kehidupannya sangat modern) dan siap muncul kapan saja dan dimana saja (sementara bisa diketahui munculnya ada dimana hanya dengan kemampuan bathin lebih tinggi) dan hebatnya lagi, kerajaan Nusantara tersebut sangat tidak bersinggungan dan berseberangan bahkan siap melaju melangkah secara berdampingan, sejalan dan searah dengan pemerintahan (saat ini dipimpin oleh presiden kita semua yang kita cintai Bapak Presiden SBY)…….

  23. bicara sejarah tak cukup hanya dari simbol-simbol yg ditemukan, banyak guci cina ditemukan dan uang kepeng (uang bolong) apakah cina pernah berkuasa atas nusantara?

    ini kasusnya sama sejarah itu tak berdiri sendiri mari telusuri selain artefak juga ada kajian lingusitik (bahasa), historis, mitos, antropologi, dst.

    surya majapahit? perlu dikaji artinya secara philosofis ataupun etimologis. surya bukankan bahasa sanskerta? melambangkan dewata nawa sanga? diatas disebutkan kata pandita apa arti pandita? wilwatikta? majapahit? hingga nama brawijaya (walaupun meninggalkan agama terahulunya dan memeluk islam) tp nama wijaya adalah bahasa sanskrta. ingat itu…agar tak malu belakangan!

  24. setuju aenoza….mau hindu, mau budha, mau islam terserah…gak akan nambah saldo tabungan saya…he…he…he… apalagi membuat saya masuk surga….wah jauuuuhhhh banget dech…. buat all ftriends , juga untuk ksatria….jangan suka menjelek-jelekkan agama lain…kita akan kualat. Islam, kristen, hindu, budha, semuanya agama besar, dimulai oleh orang-orang suci…buktinya pemeluknya didunia buanyak, peninggalannya juga megah…. coba kita bikin agama, gak akan bisa bro…

  25. Yang namanya ilmu sejarah sudah pasti berubah apabila ditemukan lagi fakt-fakta baru boleh tanyakan pada pakar-pakar sejarah, sejarah sebagai ilmu harus ditulis sebagai “Objek”. Boleh jadi Islam masuk di Nusantara melalui China lansung ke Java, karena sebelum Islam China telah berhubungan dengan Java(Baca Raja-raja Hindu di Nusantara), sisilain Nabi Muhammad SAW, menganjurkan “Tuntutlah Ilmu sampai ke Negri China” ini menunjukan China adalah bangsa Yng sangat maju. Ingat Jalur Sutra yng menghubungkan China-India-Arab. Kemudian itu menurut catatan sejarah pernah saat China di taklukan “Mongol” Jenghis Khan (1162-1227) mengutus Kubilai Khan ke Majapahit untuk meminta Upeti, Fakta ini memungkinan Islam masuk ke Java dibawa oleh bangsa China, atau ketika itu mungkin Majapahit rajanya telah beragama Islam. Tegasnya sejarah Islam masuk ke Nusantara perlu penulisan ulang begitupula Hindu,Budha masuk ke Nusantara melalui China karena Hindu Bali berbeda dengan Hindu yang ada di India

    • Dasar bodoh loe .. gk tamat sma ya ..? buat sejarah asal ngarang2…tau gk loe sejarah Hindu di bali saya orang bali lebih tau dari loe … Hindu itu mempunyai desa, kala, patra : tempat, waktu, dan keadaan, menyesuaikan dengan budaya setempat dan tidak menghancurkan budaya local,Hindu tidak seperti islam harus berbudaya arab dan menghancurkan budaya lokal..itulah kelebihan Hindu..Hindu itu dibawa oleh orang2 india ke nusantara, Hindu di bali berasal dari Majapahit dan setelah itu budaya bali di pegaruhi sedikit oleh budaya cina…kenapa beda ..? tata upacara di India dengan di bali. hakikat dari upacara itu adalah sama. jangan anda menyamakan seperti islam ……..smua rata …anda tahu…? di indonesia pagi belum tentu pagi di arab ? dan seperti kalian ketahui babad2 tanah jawa dan bali ada di bali lontar2 majapahit smua ada di bali, pura2 keluargapun banyakan bernama majapahit atau suatu desa atau nama2 gelar keturunan di majapahit, keturunan2 majapahit pun masi ada di seluruh bali seperti arya , brahmana,ksatria smua berasal dari jaman majapahit .cuih suda tipikalnya kalian seperti ini…. smua orang udah pada tahu.. kebusukan kalian tapi biarlah hukumTuhan ynag mengatur …saya tidak percaya yang namanya takdir, manusia pilihan, cobaan, godaan,…. ynag saya percayai adalah karma phala ada sebab ada akibat ada aksi ada reaksi, smua dosa di tanggung sendiri2 hasil dari perbuatan sendiri , kejelekan yang di buat kejelekan yang di dapat ..tidak sekarang yah mungkin kelahiran berikutnya

  26. saya orang bodoh, majapahit mungkin islam, mungkin hindu, mungkin kristen, mungkin atheis, yah mungkin saja. lalu apa? sudah menjadi kesenangan kita membangga-banggakan hal kosong seperti ini atau seperti soal jumlah pemeluk, trus kebenaran yang dibenarkan sendiri oleh tradisi sendiri dan secara tidak adil menilai yang lain salah dengan ukuran (yang sekali lagi) tidak adil karena sepihak. barangkali kalau ditinjau dari sisi hakiki pernyataan di atas justru aneh, apalagi dibangunnya candi-candi, gelar para raja yang menyamakan dirinya dengan dewa, saya kira jika itu islam maka itu bukan islam yang benar

  27. @all: perdebatan sprti ini tdk akan ada hbsnya, qt tunggu saja pnlitian dr ahlinya.

  28. wolak-waliking jaman,sing lanang dadi wedok,sing wedok dadi lanang,sing waras ngalah,

  29. Berpikirlah dengan qalbu, supaya bisa tembus ruang dan waktu. Apa yang kita pahami saat ini sangat mungkin sudah terdegradasi sedemikian hingga kita lupa intinya.
    Allah meninggikan derajat orang2 yang berfikir. Baru di majapahit saja sudah debat, apalagi memahami Atlantis.

  30. wes… wes… wes.. podo panase..
    ndang kungkum kono ben podo ademe hehehe….
    dieling.. eling yo..
    berbeda boleh tapi inget qta semua adalah ” SAUDARA ”
    jadi…….
    seng tertib bae yo… & ra oleh jotos2an.. hehe..

  31. To All : SEjarah adalah ilmu pengetahuan. perlu bukti dan kajian ilmiah yang sangat banyak dan sangat presisi. Sedangkan agama adalah ajaran dan aturan hidup agar manusia bisa lebih terarah hidupnya. Jangan kita berdebat tidak karuan berdasarkan fanatisme tertentu seperti yang dilakukan anak kecil ketika mereka perang mulut mempertahankan dan membela jagoan idola mereka masing2. kita semua sudah dewasa. OKKEEEE….

  32. Kebearan. Sejarah basti akan terkuak tp harus dibuktikan dengan penelitian2 ilmiah dan melibatkan beberapa ilmu yg berkaitan dengan penelitian sejarah.

  33. ada banyak pihak terutama kaum spiritual meyakini di desa lambangkuning kecamatan kertosono kab nganjuk ada makam besar dari tumpukan bata merah adalah nakam Gajah Mada mohon kepada pihak yang linuwih untuk membantu mengungkapkan secara visual mungkin ada prasasti dll ini sangat penting untuk kita semua

  34. Ada satu lagi yang harus diluruskan.. ternyata Obama itu orang papua loh karena karena rambutnya kriting dan kulitnya yang hitam…

  35. Yth Penembahan Metho
    Salam hormat,
    Membaca tulisan anda, terus terang saya agak tersinggung, saya keturunan asli dari Arya Sentong seorang kesatria majapahit yg ditugaskan untuk menundukkan Bali oleh Maha Patih Gajah Mada sampai saat ini saya masih menyimpan rontalnya, asli…..jika anda ingin berdebat akan saya ladeni….ingat kami wong majapahit yg sekarang tinggal di Bali tidak akan mundur setapakpun untuk menghadapi kalian yg telah membawa budaya arab yg penuh dengan kekerasan

  36. Dikisahkan di Bali adalah raja bernama Sri Gajah Waktera (Dalem Bedaulu), bergelar Sri Astasura Ratna Bumi Banten yang dikatakan sebagai seorang pemberani serta sangat sakti. Disebabkan karena merasa diri sakti, maka keluarlah sifat angkara murkanya, tidak sekali-kali merasa takut kepada siapapun, walau kepada para dewa sekalipun. Sri Gajah Waktera mempunyai sejumlah pendamping yang semuanya memiliki kesaktian, kebal serta juga bijaksana yakni : Mahapatih Ki Pasung Gerigis, bertempat tinggal di Tengkulak, Patih Kebo Iwa bertempat di Blahbatuh, keturunan Kyai Karang Buncing, Demung I Udug Basur, Tumenggung Ki Kala Gemet, Menteri Girikmana – Ularan berdiam di Denbukit, Ki Tunjung Tutur di Tianyar, Ki Tunjung Biru berdiam di Tenganan, Ki Buan di Batur, Ki Tambiak berdiam di Jimbaran, Ki Kopang di Seraya, Ki Kalung Singkal bertempat tinggal di Taro. Sri Gajah Waktera menentang dan tidak bersedia tunduk dibawah kekuasaan Majapahit, sehingga menimbulkan ketegangan antara Kerajaan Bali dan Kerajaan Majapahit. Dalam rapat yang diadakan oleh Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi dengan para Mentri Kerajaan, Patih Gajah Mada menyampaikan sindiran secara halus melalui seorang pendeta istana (Pendeta Purohita) yang bernama Danghyang Asmaranata

    “ Ada suatu cerita yang menceritakan sorga yang rusak akibat ulah dari seorang manusia. Semua Gandarawa takut karena diserang oleh manusia yang bernama Werkodara “

    Ratu Trihuwana Tunggadewi yang telah maklum akan maksud sindiran tersebut kemudian menjawab

    “ Sungguh benar katamu itu Mada kalau tidak Bhatara Bayu lekas datang menasehati sang Werkodara, pastilah sorga itu hancur lebur keadaannya.
    (Pendeta Purohita Danghyang Asmaranata kemudian meyampaikan pendapatnya

    “Memang benar sabda paduka, perihal yang tadi disebut Bhimaswarga karena sang Werkodara itu sungguh sungguh teguh dan perwira “

    Atas saran kedua orang kepercayaannya tersebut Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi kemudian memerintahkan kepada para Menterinya

    “ Wahai paman paman sekalian, kini ada yang kami anggap manusia yang bernama Werkodara mengacau sorga yakni Raja Bali. Beliau sekarang tidak mau menghiraukan perintah kita disini. Oleh Karena itu marilah kita mencari Bhatara Bayu untuk menasehati atau menghukum Raja Bali itu “

    Demikianlah hasil rapat tersebut yang memutuskan melaksanakan ekspedisi ke Pulau Bali untuk menangkap Raja Sri Gajah Waktera. Namun demikian usaha untuk menundukkan Bali tidaklah mudah karena Kerajaan bali dikawal oleh patih dan menteri yang memiliki kesaktian yang sangat tinggi sehingga sulit ditaklukkan. Patih patih yaitu diantaranya Ki Pasung Grigis dan Ki Kebo Iwa

    Rapat akhirnya memutuskan bahwa sebelum Gajah Mada melakukan penyerangan ke Bali maka Kebo Iwa sebagai orang yang kuat dan sakti di Bali harus disingkirkan terlebih dahulu. Jalan yang ditempuh dengan tipu muslihat yaitu raja putri Tribhuwana Tunggadewi mengutus Gajah Mada ke Bali dengan membawa surat yang isinya seakan-akan raja putri menginginkan persahabatan dengan raja Bedahulu.
    Keesokan harinya berangkatlah patih Gajah Mada ke Bali melalui lapangan Bubat kemudian meyusuri pantai dipesisir desa Pejarakan, Telagorung, Palu Ayam, Kapurancak dan mendarat di pantai Jembrana. Dari sana patih Gajah Mada melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melalui pesisir Umabangkah, Seseh, Kadungayan, Kalahan , Tuban dan terus ke Gumicik. Dari Gumicik Patih Gajah Mada mengarah ke utara menuju Sukawati. Di Sukawati Patih Gajah Mada dijemput oleh Kipasung Grigis yang sudah mengetahui perihal kedatangan patih Gajah Mada tersebut ke Bali.

    Dalam pertemuannya dengan Ki Pasung Grigis, Patih Gajahmada menyampaikan maksud dan tujuannya ke Bali karena diutus oleh Ratu Tribhuwana Tunggadewi untuk menyampaikan surat kehadapan Raja Sri Gajah Waktera. Mendengar keterangan tersebut Ki Pasung Grigis sangat risau hatinya karena menduga pasti ada sesuatu hal yang sangat penting sampai mengutus seorang patih Gajah Mada yang sangat disegani di wilayah Nusantara untuk datang ke Bali. Ki Pasung Grigis mempersilahkan Patih Gajah Mada untuk menunggu terlebih dahulu di Karang Kepatihan karena kedatangan Patih Gajahmada akan dilaporkan terlebih dahulu Kehadapan Raja Sri Gajah Waktera.

    Tiada diceritakan dalam perjalanannya Ki Pasung Grigis akhirnya sampai di Istana Bedulu dan langsung menghadap sang Prabu untuk melaporkan perihal kedatangan Patih Gajah Mada dari Majapahit. Kemudian atas ijin sang Prabu, Patih Gajah Mada kemudian mempersilahkan Patih Gajah Mada untuk menghadap Raja Sri Gajah Waktera di Istana Bedulu.

    Dihadapan Raja Sri Gajah Waktera patih Gajah Mada menyampaikan maksud kedatangannya dan menyerahkan surat dari Ratu Majapahit Tribhuwana Tunggadewi. Surat tersebut kemudian diterima yang isinya

    “ Hormat susuhunan pukulun yang menaungi bumi Bali ini. Kami di Majapahit sebagai burung elang dalam bulan oktober, berkepanasan berharap harap hujan. kami disini sebagai burung tadahasih yang selalu meratap pada waktu bulan tak bersinar. Tiada lain hanya Sri Susuhunanlah yang patut menaungi bumi ini dan yang patut dijunjung. Dari itu harapan kami janganlah kiranya paduka tuan menyimpang dari tali persahabatan kita yang sudah erat sedari dulu. Kami risau karena menurut berita berita yang kami peroleh, Konon Sri Susuhunan akan menyerang kekuasaan kami di Jawa. Nah jika sungguh kabar itu demikian, kami mohon sekali agar penyerbuan paduka terhadap kami diurungkan. Maksud kami tak lain dan tak bukan hanya berkawan saja dengan Sri Susuhunan disini. Sekiranya maksud kami, paduka setujui maka kami mohon kiranya Paduai sudi mengirim Ki Kebo Iwa yakni patih paduka yang masih jejaka ke Jawa bersama patih Gajah Mada. Maksud kami, ia akan kami nikahkan dengan putri lemah Tulis yang sangat masyur kecantikannya. Itulah kebaikan kami yang kami tunjukkan kepada paduka demi untuk mempererat persahabatan diantara kita. Sekian hormat dari kami Tribhuwana “
    Demikianlah isi surat dari ratu Tribhuwana Tunggadewi. Sri Baginda sangat gembira hatinya setelah membaca surat tersebut dan hatinya tiada terbalas akan kebaikan hati ratu Majapahit tersebut. Menanggapi tawaran dari Majapahit, Patih Kebo Iwa yang setia terhadap rajanya, memohon petunjuk dan persetujuan dari baginda Sri Astasura Bumi Banten. Sang Raja menyetujuinya tanpa rasa curiga. Sebelum pergi ke Majapahit, Patih Kebo Iwa terlebih dahulu melakukan upacara keagamaan di Pura Uluwatu, untuk meminta kekuatan dari Sang Hyang Rudra. Dan Sang Hyang Rudra memenuhi permintaan Kebo Iwa, mengakibatkan meningkatnya kekuatan dan kesaktian menjadi sangat luar biasa.
    Patih Gajah Mada bersama Ki Kebo Iwa kemudian mohon pamit kepada Sri Baginda. Mereka berjalan mengarah keselatan menuju pesisir pantai. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mengarungi lautan, namun ketika sampai di tengah lautan tiba tiba Ki Kebo Iwa terjatuh ke dalam lautan. Hal tersebut memang telah direncanakan sebelumnya oleh patih Gajah Mada untuk menyingkirkan Ki Kebo Iwa. Akan tetapi walaupun jatuh di laut yang dalam Ki Kebo Iwa karena kesaktiannya mampu berenang dan menyusul sampan patih Gajah Mada. Melihat hal tersebut patih Gajah Mada tiada berdaya lagi dan mencari jalan lain untuk menyingkirkan ki Kebo Iwa.

    Setelah menempuh perjalanan yang panjang akhirnya sampailah mereka disisir pantai Banyuwangi. Disana mereka mampir di rumah Raden Arya. Keesokan harinya patih Gajah Mada akan melanjutkan perjalanannya ke Majapahit dan minta ke pada Kebo Iwa untuk menunggunya di tempat ini karena ia akan meloporkan terlebih dahulu hasil perjalanannya ke Pulau Bali kepada Ratu Majapahit.

    Tidak diceritakan dalam perjalanannya sampailah Patih Gajah Mada di Istana Majapahit dan langsung menghadap Ratu Tribhuwana Tunggadewi melaporkan hasil kunjungannya ke Pulau Bali menemui Raja Sri Gajah Waktera. Patih Gajah Mada juga melaporkan bahwa telah berhasil membawa Kebo Iwa kemari dan sekarang telah menunggu di banyuwangi di rumah Raden Arya serta berbagai upaya yang telah dilakukan untuk melenyapkan Kebo Iwa namun selalu menemui kegagalan. Setelah melalui perundingan yang cukup panjang akhirnya diputuskan bahwa upaya yang ditempuh adalah dengan menyediakan soerang gadis cantik untuk menggoda Kebo Iwa.
    Ki Kebo Iwa adalah seorang yang sangat disegani karena kesaktian yang dimiliki dan sifat pemberani serta kejujuran hatinya sehingga sampai sampai Majapahit yang sangat termasyur akan kejayaannya di medan pertempuran mengalami kesulitan untuk menundukkan kerajaan Bali kalau patih Kebo Iwa masih ada.

    Untuk mengungkap lebih jauh tentang keberadaan Kebo Iwa berikut kami uraikan mengenai asal usul beliau :

    Di desa Bedahulu wilayah kabupaten Tabanan, Bali pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri yaitu Ki Demang yang terkenal dengan lurah Bekung ( Lurah-sakti dan bekung ). Lama beliau tidak berputra sedangkan Ki Demang ini sangat dihormati, disegani, oleh kawan dan lawan, beliaulah yang menciptakan Yeh ngenu, hasil dari membedah-hulu sungai, sehingga desanya disebut dengan desa Bedah-Hulu ( bukan bedahulu ) yang tadinya desanya adalah kering krontang, tandus dengan adanya Yeh Ngenu, maka desanya menjadi subur makmur, sampai terkenal kesuburannya didaerah Bali. Hanya sayang beliau tidak punya keturunan, akhirnya dengan menggunakan Mantramnya untuk Nyeraya Putra ( Nunas kesidian ngelungsur Putra ) dengan jalan Agni Gotra, beliau mohon kepada Sang Pencipta untuk diberikan keturunan. Namun karena niat yang terlalu besar untuk mempunyai keturunan sehinnga secara tidak sengaja istrinya menyampaikan permohonan yang berlebihan .

    “Asalkan diberkati putra, berapapun kuat makan putranya itu akan diladeni”

    demikianlah konon sosot / sesangi tambahan yang nyeplos dari istri Ki Demang tersebut. Waktu pun berlalu sampai akhirnya sang istri mulai mengandung, betapa bahagianya mereka. Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki. Bayi tersebut hendak disusui oleh ibunya, namun jarinya terus menunjuk ke arah sebuah nasi kukus. Bahwa nantinya anak ini akan menjadi tokoh besar, sudah nampak tanda- tandanya sejak dini.
    Bayi itu menangis merengek seolah meminta sesuatu. Sang Ibu kasihan mendengar rengekan sang bayi , Ibu kemudian mengambil nasi kukus tersebut dan mencoba untuk memberikannya pada bayi. Ibu bergumam dalam hatinya : Apakah anak ini ingin merasakan nasi kukusan ini? Umurnya belum cukup untuk makan nasi?”
    Tak dinyana ternyata bayi tersebut memakan nasi kukus tersebut dengan lahapnya. Ibu bayi tersebut menampakkan keterkejutan yang sangat. Ketika baru lahir, anak tersebut sudah bisa untuk memakan nasi… Ibu:” Astaga, Kau telah berikan anak yang luar biasa, ya Hyang Widi… Ternyata yang lahir bukanlah bayi biasa. Ketika masih bayi pun ia sudah bisa makan makanan orang dewasa. Anak itu tumbuh menjadi orang dewasa yang tinggi besar. Karena itu ia dipanggil dengan nama Kebo Iwa, yang artinya paman kerbau.
    Kebo Iwa makan dan makan terus sehingga lama kelamaan habislah harta orang tuanya untuk memenuhi selera makannya. Mereka pun tak lagi sanggup memberi makan anaknya. Dengan berat hati mereka meminta bantuan desa. Sejak itulah segala kebutuhan makan Kebo Iwa ditanggung desa. Penduduk desa kemudian membangun rumah yang sangat besar untuk Kebo Iwa. Mereka pun memasak makanan yang sangat banyak untuknya. Tapi lama-lama penduduk merasa tidak sanggup untuk menyediakan makanan. Kemudian mereka meminta Kebo Iwa untuk memasak sendiri. Mereka cuma menyediakan bahan mentahnya. Bahan-bahan pangan tersebut diolah oleh Kebo Iwa di Pantai Payan, yang bersebelahan dengan Pantai Soka.

    Danau Beratan merupakan tempat dimana , Kebo Iwa biasanya membersihkan, walaupun jaraknya cukup jauh namun dengan tubuh besarnya jarak tidak menjadi masalah baginya, dia bisa mencapai setiap tempat yang diinginkannya di wilayah Bali dengan waktu singkat. Kebo Iwa memang serba besar. Jangkauan kakinya sangat lebar, sehingga ia dapat bepergian dengan cepat. Kalau ia ingin minum, Kebo Iwa tinggal menusukkan telunjuknya ke tanah. Sehingga terjadilah sumur kecil yang mengeluarkan air.
    Walaupun terlahir dengan tubuh besar, namun Kebo Iwa adalah seorang pemuda dengan hati yang lurus. Suatu ketika dalam perjalanannya pulang dari Danau beratan, Tampak segerombolan orang dewasa yang tidak berhati lurus, Dari kejauhan para warga desa merasa sangat cemas. Tampak seorang dari mereka tersita perhatiannya pada seorang gadis cantik. Laki-laki itu menggoda gadis ini dengan kasar, gadis ini menjadi takut dan enggan berbicara. Laki-laki itu semakin bernafsu dan tangan-tangannya mulai melakukan tindakan yang tidak senonoh.

    Tiba-tiba Kebo Iwa muncul di belakang gerombolan tersebut, mencengkeram tangan salah seorang dari mereka, nampak kegeraman terpancar dari wajahnya, laki-laki itu menjerit kesakitan, gerombolan itu sangat terkejut melihat Kebo Iwa yang begitu besar, ketakutan nampak dari raut muka gerombolan tersebut. Gerombolan tersebut lari tunggang langgang. Demikianlah Kebo Iwa membalas jasa baik para warga desanya dengan menjaga keamanan di mana dia tinggal. Tubuh yang besar sebagai karunia dari Sang Hyang Widi dimanfaatkan dengan sangat baik dan benar oleh Kebo Iwa.
    Pada abad 11 Masehi, sebuah karya pahat yang sangat megah dan indah dibuat di dinding Gunung Kawi, Tampaksiring. Kebo Iwa yang memahat dinding gunung dengan indahnya, hanya dengan menggunakan kuku dari jari tangannya saja. Karya pahat tersebut dibuat hanya dalam waktu semalam suntuk, menggunakan kuku dari jari tangan Kebo Iwa. Pahatan tersebut diperuntukkan memberikan penghormatan kepada Raja Udayana, Raja Anak Wungsu ,Permaisuri dan perdana menteri raja yang disemayamkan disana. Raja Anak Wungsu adalah raja yang berhasil mempersatukan Bali.
    Salah satu hal yang paling istimewa dari Kebo Iwa adalah kemampuannya untuk membuat sumur mata air. Kebo Iwa dengan segenap kekuatan menusukkan jari tangannya ke dalam tanah. Dengan kekuatan jari tangannya yang dahsyat, dia mampu mengadakan sebuah sumur mata air, hanya dengan menusukkan jari telunjuknya ke dalam tanah. Beragam kemampuan yang luar biasa tersebut, menyebabkan timbulnya daya tarik tersendiri dari pribadi seorang Kebo Iwa. Dan kekuatan luar biasa itu, menyebabkan seorang raja yang berkuasa keturunan terakhir dari Dinasti Warma Dewa, bernama Sri Astasura Bumi Banten… menginginkan Kebo Iwa untuk menjadi salah satu patihnya di wilayah Blahbatuh…Yang juga dikenal dengan sebutan Raja Bedahulu.. Kebo Iwa diangkat menjadi Patih kerajaan dan saat itu dia mengucapkan Janji bahwa selama Kebo Iwa masih bernafas Bali tidak akan pernah dikuasi.

    Pura Gunung Kawi Bali, yang konon dibuat oleh Kebo Iwa

    Dengan dukungan dari patih Kebo Iwa yang luar biasa kuat, Sri Astasura Bumi Banten menyatakan bahwa kerajaannya tidak akan mau ditundukkan oleh Kerajaan Majapahit yang berkehendak untuk menaklukkan kerajaan di Bali. Adapun kerajaan Majapahit waktu itu dipimpin oleh Ratu Tri Bhuwana Tungga Dewi, dengan patihnya yang paling terkenal dengan terkenal dengan Sumpah Palapanya (sumpah untuk tidak menikmati kenikmatan dunia bila seluruh wilayah nusantara belum dipersatukan di bawah panji Majapahit) yang bernama Gajah Mada.

    Kembali ke awal cerita dimana salah seorang Kriyan diutus untuk menjemput Ki Kebo Iwa yang ditinggal oleh Patih Gajah Mada di daerah Banyuwangi berhasil menemui Ki Kebo Iwa dan mengantarnya ke Istana Majapahit. Kedatangan Patih Kebo Iwa ke tanah Majapahit menyebabkan para tentara, baik yang belum pernah melihatnya maupun yang pernah takluk atas kekuatannya, menjadi terperangah, kagum, bercampur rasa ngeri dan waspada, Tentara Majapahit, menampakkan ekspresi terkejut dan cemas. Arah pandang mereka terpusat ke satu tujuan yang sama. Beberapa diantara mereka nampak sedang berbisik pelan dengan teman yang berada di sebelahnya;

    “Lihatlah ukuran tubuhnya! Luar biasa ! Mengerikan !”.

    Patih Gajah Mada menyambut kedatangan Patih Kebo Iwa: “Salam, Patih yang tangguh ! Selamat datang di Kerajaan Majapahit” Patih Kebo Iwa yang menimpali salam dari Patih Gajah Mada. Kebo Iwa:

    “Terima Kasih Patih, kiranya anda bersedia untuk langsung menjelaskan maksud dari Baginda Tri Bhuwana Tungga Dewi yang meminta saya untuk datang ke Majapahit.
    Gajah Mada : “Seperti yang telah dikabarkan sebelumnya, Patih kebo Iwa, baginda Raja mengharapkan kedatangan patih guna menjalin suatu tali persahabatan dengan Kerajaan Bedahulu di Bali dan juga berharap agar patih bersedia menemui wanita terhormat pilihan baginda yang dirasa pantas untuk mendampingi seorang patih yang tangguh seperti anda”.

    Gajah Mada menarik nafas panjang kemudian melanjutkan kata-katanya: “Akan tetapi sebelumnya, akan sangat berati apabila Patih kerajaan. Kebo Iwa berkenan membuat sumur air di sana yang nantinya akan dipersembahkan untuk wanita calon pendamping anda. Lebih lagi, sumur itu nantinya juga akan dimanfaatkan oleh rakyat kerajaan Majapahit yang saat ini sedang kekurangan air. Kiranya patih berkenan mengabulkan permohonan ini.

    Patih Kebo Iwa memiliki jiwa besar dan lurus hatinya, akhirnya diapun meluluskan permintaan tersebut. Nampak Patih Kebo Iwa yang sedang mempertimbangkan permintaan tersebut. Kemudian memutuskan untuk memenuhi permintaan tersebut. Kebo Iwa (berpikir sejenak) kemudian dia berkata:

    “Baiklah, biarlah kekuatanku ini kupergunakan untuk sesuatu yang menghadirkan berkat bagi orang banyak”.

    Tanpa banyak cakap lagi, Patih Kebo Iwa segera melakukan aktivitasnya untuk menciptakan sebuah sumur air. Sebelum memulai pekerjaannya, tidak lupa Patih Kebo Iwa meminta pedoman dari Sang Hyang Widi. Kebo Iwa : (dalam hati) Ya yang Kuasa, segala yang akan saya lakukan semoga menggambarkan kebesaran namaMu. Kebo Iwa mulai menggali sumur di tempat yang telah ditunjuk.Dalam waktu yang cukup singkat, sumur telah tergali cukup dalam. Namun belum ada mata air yang keluar. Di atas lubang sumur yang digali oleh Patih Kebo Iwa, para prajurit Majapahit terlihat berkerumun, nampak mereka memusatkan pehatian pada Patih Gajah Mada. Seakan mereka menantikan sesuatu perintah…Tiba-tiba Gajah Mada berteriak:

    “Timbun dia dengan batu………!!!!” Seketika itu juga, para prajurit menimbun kembali lubang sumur yang sedang dibuat, dengan Patih Kebo Iwa berada di dalamnya.

    Para prajurit menimbun lubang sumur dengan batu hasil galian itu sendiri, nampak Kebo Iwa sangat terkejut dan berusaha menahan jatuhnya batu. Dalam waktu yang singkat, lubang sumur itupun tertutup rapat. Mengubur seorang pahlawan besar didalamnya. Patih Gajah Mada yang berbicara kepada para parjuritnya.Gajah Mada :

    “Sungguh amat disayangkan seorang pahlawan besar seperti dia harus mengalami ini. Namun, hal ini terpaksa harus dilakukan, agar nusantara ini dapat dipersatukan. Dengan ini kerajaan Bali akan menjadi bagian dari Majapahit”.
    Tiba-tiba timbunan batu melesat ke segala penjuru, menghantam prajurit Majapahit. Terdengar teriakan membahana dari dalam sumur. Kebo Iwa : (berteriak)

    “Belum ! Bali masih tetap merdeka, karena nafasku masih berhembus !!.

    Batu-batu yang ditimbunkan melesat kembali keangkasa dibarengi dengan teriakan prajurit Majapahit yang terhempas batu. Dari dalam sumur, keluarlah Patih Kebo Iwa, yang ternyata masih terlalu kuat untuk dikalahkan. Patih Gajah Mada terkejut, menyaksikan Patih Kebo Iwa yang masih perkasa, dan beranjak keluar dari lubang sumur.

    Kebo Iwa : “Dan pembalasan adalah apa yang kutuntut dari sebuah pengkhianatan !” Patih Kebo Iwa menyerang Patih Gajah Mada kemarahan dan dendam mewarnai pertempuran. Akibat amarah dan dendam yang dirasakan oleh Patih Kebo Iwa, pertempuran berlangsung sengit selama beberapa waktu. Disela-sela saling serang Gajah Mada berteriak:”Untuk memersatukan dan memperkuat nusantara, segenap kerajaan hendaklah dipersatukan terlebih dahulu. Dan kau berdiri di garis yang salah sebagai seorang penghalang !”.

    Kesaktian Patih Kebo Iwa, sungguh menyulitkan usaha Patih Gajah Mada untuk menundukkannya. Pertempuran antara keduanya masih berlangsung hebat, namun amarah dan dendam Patih Kebo Iwa mulai menyurut…Dan rupanya Patih Kebo Iwa tengah bertempur seraya berpikir … Dan apa yang tengah dipikirkan olehnya, membuat dia harus membuat keputusan yang sulit… Kebo Iwa : (dalam hati) Kerajaan Bali pada akhirnya akan dapat ditaklukkan oleh usaha yang kuat dari orang ini, keinginannya untuk mempersatukan nusantara agar menjadi kuat kiranya dapat aku mengerti kini. Namun apabila, aku menyetujui niatnya dan ragaku masih hidup, apa yang akan aku katakan nantinya pada Baginda Raja sebagai sangkalan atas sebuah prasangka pengkhianatan ? Masih dalam keadaan bertempur, secara sengaja Patih Kebo Iwa melontarkan pernyataan yang intinya mengenai hal untuk mengalahkan kesaktiannya.

    Kebo Iwa :

    “Wahai Patih Gajah Mada ! Cita-citamu untuk membuat nusantara menjadi satu dan kuat kiranya dapat aku mengerti, namun selama ragaku tetap hidup sebagai abdi rajaku, aku akan menjadi penghalangmu. Maka, taklukkan aku, hilangkan kesaktianku dengan menyiramkan bubuk kapur ke tubuhku.

    Pernyataan Patih Kebo Iwa rupanya membuat terkesiap Patih Gajah Mada. Patih Gajah Mada menunjukkan reaksi keheranan yang amat sangat atas perkataan Patih Kebo Iwa. Gajah Mada yang mengerti atas keinginan Kebo Iwa, nampak menghantamkan jurusnya ke batu kapur, batu itupun luluh lantak menjadi serpihan bubuk. Patih Gajah Mada menyapukan bubuk tersebut ke arah Patih Kebo Iwa dengan ilmunya, bubuk kapur menyelimuti tubuh sang patih Nampak Patih Kebo Iwa, sesak napasnya oleh karena bubuk kapur tersebut.

    Kiranya bubuk kapur tersebut membuat olah pernapasan Patih Kebo Iwa menjadi terganggu, hal tersebut mengakibatkan kesaktian tubuh Patih Kebo Iwa menjadi lenyap.Patih Gajah Mada melesat ke arah Patih Kebo Iwa, menusukkan kerisnya ke tubuh Kebo Iwa. Dan sebelum kepergiannya, dengan sisa tenaga yang ada Patih Kebo Iwa mengutarakan apa yang ingin dikatakan untuk terakhir kali. Patih Kebo Iwa :

    “Kiranya kematianku tidak sia-sia adanya…biarlah nusantara yang kuat bersatu hasil yang pantas atas harga hidupku”.

    Patih Gajah Mada dengan raut muka sedih, memberikan jawaban atas perkataan Patih Kebo Iwa. Gajah Mada :

    “Kepergianmu sebagai tokoh besar akan terkenang dalam sejarah… Sejarah suatu nusantara yang satu dan kuat”.

    Tak lama setelah mendengar pernyataan tersebut, napas terakhirpun pergilah sudah, meninggalkan raga seorang patih tertangguh dalam sejarah Bali… dan pertiwi pun meredup melepas kepergian salah satu putra terbaiknya.

    Kisah Kebo Iwa belakangan ini banyak dikaitkan dengan bencana lumpur ( Lumpur Sidoarjo ) karena konon disitulah tempatnya Kebo Iwa diperdaya oleh ki Patih Gajahmada, ketika perang tanding terjadi, Patih Gajahmada sudah terjulur lidahnya keluar dipecik / cekuk oleh Kebo Iwa yang pantang berperang menggunakan senjata, mereka hanya memanpaatkan kekuatan yang ada pada dirinya. Ketika Ki Patih Gajahmada sudah menjulur lidahnya keluar, tiba tiba mendadak niatnya Kebo Iwa untuk menunda kematian Gajahmada dengan cara ingin tau mengapa Gajahmada seorang Mahapatih yang begitu tersohor namanya, menghadapi Kebo Iwa seorang diri saja mereka masih mempergunakan tipu daya ( pengindra jala ) denga cara mengubur Kebo Iwa dalam sumur- hidup hidup…..? apakah begini strategi perang Majapahit yang terkenal tersebut . Disitulah akhirnya Gajahmada dengan Isak tangisnya menyatakan bahwa : Disatu sisi dia mengakui kedigjayaan Kebo Iwa Ksatria Bali, disatu sisi mereka konsisten dengan keinginan luhurnya mempersatukan Nusantara. Begitu Kebo Iwa mendengarkan kesaksian Gajahmada yang jujur dan misi yang luar biasa ini “MEMPERSATUKAN NUSANTARA” maka menangislah Kebo Iwa sejadi jadinya, disatu sisi mereka adalah seorang kesatria yang pantang menyerah, distau sisi Kebo Iwa ingin mensuport perjuangan untuk mempersatukan Nusantara, akhirnya Kebo Iwa memilih jalan Ksatria, dengan jalan membuka rahasia kelemahannya dengan satu sarat : ( Statementnya ini ditulis dalam sebuah Prasasti yang ada di Pulau Menjangan sebelah utara Gilimanuk ( Dalam Pura Gajah mada & Kebo Iwa ) yang Berbunyi : “ Wahai Ki Patih Gajahmada, kupersembahkan Pulau Bali ini kepadamu dengan utuh, demi sebuah cita citamu yang luhur “MEMPERSATUKAN NUSANTARA” Namun apabila Pulau bali diperlakukakan secara tidak adil, Majapahit harus bertanggung jawab, aku akan berontak dan menenggelamkan Majapahit sesuai dengan lumpur kapur sirih yang merupakan bubuk yang akan kau siramkan dalam tubuhku, karena disitulah letak kelemahanku, sekarang aku mengalah demi cita citamu yang luhur.
    Prasati ini terpatri dalam sebuah Pura di Pulau Menjangan. Dengan meninggalnya patih Ki Kebo Iwa maka tinggal 1 orang lagi orang yang paling berpengaruh yang harus disingkirkan untuk dapat menaklukan Kerajaan Bali. Orang tersebut tiada lain yaitu Krian Pasung Grigis yang merupakan Mangkubumi dari Kerajaan Bali.

    Meninggalnya Kebo Iwa akhirnya memuluskan upaya Majapahit untuk melaksanakan ekspedisi ke Bali untuk menangkap Raja Sri Gajah Waktera. Untuk melaksankan ekspedisi teraebut digelarlah sidang antara Ratu Majapahit dengan para pembesar/ pejabat istana. Dalam perundingan tersebut ikut serta adik adik Raden Cakradara yang merupakan Suami dari Ratu Majapahit Tribhuwana Tunggadewi. Dalam perundingan tersebut Gajah Mada menyampaikan pendapatnya

    “ Mohon ampun baginda Raja, Kryan Pasung Grigis teramat sakti dan sulit untuk dikalahkan. Untuk menaklukkan Bali harus dilakukan penyerangan dari segala penjuru, oleh karena itu apabila Baginda mengijinkan kepergian hamba ke Bali dapat kiranya disertai kelima adik baginda raja, karena rasanya tanpa beliau pulau Bali akan sulit ditaklukkan.

    Raden Cakradara tidak keberatan atas pendapat Patih Gajah Mada dan menyerahkan sepenuhnya hal tersebut kepada adik adiknya

    “ Bagaimana adik adikku apakah kalian bersedia membantu Patih Gajah Mada untuk bersama sama berangkat untuk menaklukkan Bali “
    Semua adik adiknya menjawab dengan serentak
    “ Demi kejayaan Majapahit, apapun perintah Kanda Prabu akan kami laksanakan dengan sebaik baiknya sebagai seorang kesatria “

    Patih Gajah Mada sangat senang hatinya, cita citanya untuk melaksanakan sumpah Palapa sebentar lagi akan terwujud dengan menaklukkan Pulau Bali terlebih dahulu.

    “ Baiklah kalau demikian halnya, hamba Patih Gajah Mada menghaturkan rasa terima kasih dengan segala hormat. Kini hamba bertambah yakin akan dapat menaklukkan Pulau Bali dan menangkap Pasung Grigis.

    Setelah itu Gajah Mada mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menyerang Bali. Terjadilah ekspedisi Gajah Mada ke Bali pada tahun 1334 dengan Candrasangkala Caka isu rasaksi nabhi (anak panah, rasa, mata pusat). Pasukan Majapahit dipimpin oleh Gajah Mada sendiri bersama panglima perang Arya Damar dibantu oleh beberapa Arya. Setelah sampai di pantai Banyuwangi, tentara Majapahit berhenti sebentar untuk mengatur siasat peperangan. Dari Hasil perundingan tersebut diputuskan untuk menyerang bali dari 3 arah yang berbeda sebagai berikut :

    1. Dari Arah Timur
    Penyerangan Bali dari arah timur akan dipimpin oleh Patih Gajah Mada bersama dengan para patih keturunan Mpu Witadarma, Krian Pemacekan, Ki Gajah Para, Krian getas akan mendarat di Toya Anyar

    2. Dari Arah Utara
    Penyerangan Bali dari arah utara akan dipimpin oleh Arya Damar bersama dengan Arya Sentong dan Arya Kutawaringin akan mendarat di Ularan

    3. Dari Arah Selatan
    Penyerangan Bali dari arah utara akan dipimpin oleh Arya Kenceng bersama dengan Arya Belog (Tan Wikan) Arya Pengalasan dan Arya Kanuruhan akan mendarat di pantai Kuta

    Kita beralih ke suasana di kerajaan Bali, setelah mengetahui kematian Patih Kebo Iwa, Raja Sri Gajah Waktera kemudian mengadakan rapat penting dengan para patih dan pejabat-pejabat Kerajaan lainnya. Dalam pertemuan tersebut diputuskan bahwa patih Amangkubhumi Pasung Grigis menggantikan Kebo Iwa mengorganisir pasukannya menentang Majapahit. Dalam rapat tersebut seluruh hadirin sepakat mempertahankan Bali dan tidak mau tunduk kepada Majapahit.

    Setelah menyeberangi lautan pasukan Majapahit akhirnya mendarat di Pulau Bali. Kedatangan prajurit Majapahit tersebut membuat Pulau Bali bagaikan bergetar, rakyat Bali menjadi panik dan melaporkan hal tersebut kepada pangeran Sri Madatama yang merupakan putra mahkota kerajaan Bali serta kehadapan Raja Sri Gajah Waktera. Setelah mendengar laporan tersebut, Raja Sri Gajah Waktera kemudian mengutus putranya pangeran Sri Madatama untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut. Setelah memastikan kebenaran berita tersebut Krian Pasung Grigis beserta para patih lainnya serta punggawa menyiapkan pasukannya masing masing dengan membagi pasukan menjadi 3 sesuai arah pengepungan pasukan dari Majapahit.

    • Pertahanan di wilayah Utara dijaga oleh Ki Pasung Grigis, Si Buwan dan Krian Girikmana.
    • Pertahanan di wilayah Barat dijaga oleh Sri Madatama, Ki Tambyak, Ki Walumgsingkat dan Ki Gudug Basur.
    • Pertahanan di wilayah Timur dijaga oleh Ki Tunjung Tutur, Kom Kopang dan Ki Tunjung Biru.
    Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan kerajaan Bedahulu. Diceritakan pasukan dari arah timur yang dipimpin langsung oleh Patih Gajah Mada sesuai kesepakatan, langsung membakar semak belukar di hutan untuk memberi tanda kepada pasukan dari arah Utara dan selatan bahwa penyerangan akan segera dimulai. Akibat pembakaran hutan tersebut membuat nyala api membumbung tinggi ke angkasa sehingga dapat dilihat oleh para arya dari arah utara dan selatan.. Dengan isyarat tersebut dengan serentak para prajurit Majapahit melakukan penyerangan ke Pusat kerajaan Bedahulu.

    Pasukan dari arah Timur dipimpin oleh Patih Gajah Mada berhadapan langsung dengan pasukan Bedahulu yang dipimpin oleh Ki Tunjung Tutur yang berkedudukan di Toya Anyar dan Ki Kopang yang berkedudukan di Seraya. Pertempuran berjalan dengan dahsyatnya, saling terjang dan masing masing memperlihatkan kesaktian, kedigjayaan serta kemahiran bertempur, sampai akhirnya pasukan Bedahulu dapat dipukul mundur oleh Pasukan dari Majapahit setelah Ki Tunjung Tutur dan Ki Kopang gugur dalam pertempuran. Pasukan yang masih tersisa akhirnya tercerai berai menyelamatkan hidupnya masing masing. Dengan gugurnya kedua pemimpin pasukan tersebut maka daerah Tejakula, Bondalem, Julah, Bangkah, Bukti, Sembiran, Tajun, Bontihing, Bila, Depaa, Dausa, Lateng, Tunjuk, Kepakisan, Selulung, Batur dan desa sekitar bintang danu dan bagian timur seperti Tongtongan, Margatiga, Ngis dan Tianyar dapat dikuasai oleh Prajurit Majapahit dibawah Pimpinan Patih Gajah Mada.

    Demikian pula pasukan dibawah pimpinan Krian Kepakisan dan Krian Tumenggung dapat menguasai desa Celukan Bawang, Banjar-Aseman, Uma Anyar, Yeh Anakan, Kalopaksa, PatemonUlaran, Unggahan, Gelagah, Kutul, Sepang, sekitar sungai Ubo, Ringdikit, Rangdu, Mayong, Pusuh, Lapuan, Kekeran, Belah-Manukan, Kedis, Gesing, Banyuatis, Gobleg, Cempaga, Kayu Putih, Munduk dan Baha.

    Pertempuran di Bali bagian utara juga tidak kalah serunya. Daerah Ularan dipertahankan oleh Ki Girikmana diserang oleh pasukan dari Majapahit dibawah pimpinan Panglima Arya Damar. Terjadi pertempuran antara kedua pimpinan pasukan yaitu Arya Damar dengan Si Girikmana. Kedua pasukan yang tadinya bertempur menghentikan pertempuran untuk menyaksikan perang tanding ke dua tokoh tersebut. Dalam perang tanding yang berlangsung sangat seru tersebut masing masing menunjukkan kesaktiannya untuk secepatnya melumpuhkan musuhnya, sampai akhirnya Si Girikmana tidak mampu menandingi kesaktian Arya Damar sehingga gugur dalam pertempuran sebagai kesatria sejati. Gugur pula dari pihak kerajaan Bali Krian Jembrana sebagai prajurit yuda.

    Di Batur pasukan yang dipimpin oleh Arya Damar dihadang oleh Ki Bwan. Dalam pertempuran tersebut Arya Kutawandira mohon diberi kesempatan untuk untuk perang tanding dengan Ki Bwan. Arya Damar mengijinkan dan memberi nasehat untuk berhati hati dalam menghadapi Ki Bwan karena orangnya juga tidak kalah saktinya dengan Si Girikmana sehingga terjadilah pertempuran antara kedua tokoh tersebut. Dalam pertemuran tersebut Ki Bwan tidak mampu menandingi kesaktian Arya Kutawandira sehingga gugur dalam pertemuran sebagai pahlawan. Dengan gugurnya ke dua pimpinan pasukan dari Bedahulu tersebut maka wilayah Bali bagian utara jatuh ketangan pasukan Majapahit dibawah pimpinan Arya Damar. Panglima perang pasukan Majapahit yang gugur dalam pertempuran tersebut bernama Arya Gait . Dengan gugurnya Ki Girikmana dan Ki Bwan maka daerah Jembrana, Pamagetan, Kebon jangung, Pangesan, Cangku, Pupuhan, Balimbing, Serampangan, penatahan, Jelijih, Punggang, Gadungan, Kayu Kunyit, Uma-Gati, Uma-Bangkah dan desa Selajong dapat dikuasai prajurit Majapahit dibawah pimpinan Arya Damar.

    Prajurit Tempo Dulu
    Berbeda dengan Bali bagian utara dan bagian Timur, pertahanan Bali bagian Selatan jauh
    lebih kuat karena dipimpin langsung oleh Putra mahkota Kerajaan Bali yaitu pangeran Sri Madatama bersama panglima pasukan yang sakti mandraguna yaitu Ki Gudugbasur yang berpangkat demung dan Ki Tambyak yang berkedudukan di Jimbaran. Pasukan dari Bali tersebut bertempur dengan semangat tinggi dengan diiringi oleh gamelan yang gegap gembita sehingga berbaur dengar gemerciknya suara tombak beradu.

    Dalam pertempuran tersebut Lurah Kadengayan, Lurah Suwung terlibat pertempuran sengit dengan Arya Wangbang dan Arya Dalancang. Pertempuran tersebut berjalan seimbang dimana Kedua belah pihak sama sama mengeluarkan ilmu pamungkas, sampai akhirnya Lurah Kadengayan dan Lurah Suwung gugur dalam perang tanding tersebut. Melihat temannya gugur dalam pertempuran Ki Demang Kalambang dan Ki Tambyak maju ke medan pertempuran menuntut balas

    Ki Tambyak mengamuk dalam pertempuran sehingga membuat pasukan Majapahit tercerai berai. Dalam pertempuran tersebut Arya Pasuruhan tewas di tangan ki Tambyak dan di injak injak dengan kuda sedangkan kyai Banyuwangi lari dikejar oleh pasukan Ki Kalambang. Melihat pasukan Majapahit terus terdesak Arya Kenceng kemudian turun langsung ke medan pertempuran.

    Pasukan Majapahit di wilayah Selatan dibawah pimpinan Arya Kenceng menggempur habis habisan, tiada henti hentinya mengurung pasukan musuh dari segala arah. Pasukan Ki Gudug Basur dan Ki Tambyak mulai terdesak dan banyak yang mati terluka. Dalam keadaan terdesak Ki Tambyak berhasil mengalahkan Kyai Lurah Belambangan. Tubuhnya dilemparkan oleh Ki Tambyak sehingga terpelanting ke tempat yang agak jauh. Kyai Lurah Belambangan menghembuskan napasnya yang terakhir, gugur sebagai prawira yuda yang gagah berani. Melihat kawan seperjuangannya gugur, Arya Balancang, Arya Sentong, Arya Wangbang dan Kyai Banyuwangi maju bersamaan untuk mengimbangi kekuatan musuh.

    Ki Tambyak adalah seorang patih kerajaan Bali yang sangat teguh dan sakti sehingga sulit untuk dikalahkan, kalau hal tersebut terus dibiarkan maka makin banyak korban yang berjatuhan dari pihak Majapahit. Untuk menghindari hal tersebut maka pimpinan pasukan Majapahit di wilayah selatan yaitu Arya Kenceng memutuskan menghadapi langsung Ki Tabyak. Dalam pertempuran satu lawan satu tersebut masing masing pihak berusaha saling mengalahkan. Karena hebatnya perang tanding tersebut prajurit dari kedua belah pihak sampai menghentikan pertempuran untuk menyaksikan kedua tokoh sakti tersebut saling mengalahkan. Namun demikian ternyata Arya Kenceng dapat memanfaatkan kelengahan Ki Tambyak sehingga dapat terus menekannya. Ki Tambyak akhirnya gugur dalam pertempuran sampai kepalanya terpisah dari badannya. Dengan gugurnya Ki Tambyak pertahanan Bali di wilayah selatan menjadi lemah karena hanya menyisakan Ki Gudug Basur.

    Dalam Pertempuran tersebut Ki Gudug basur diserang dari segala arah oleh para Arya dari Majapahit. Namun I Gudug basur ternyata mempunyai ilmu yang sangat tinggi yaitu teguh, kebal oleh senjata apapun sehingga para Arya mengalami kesulitan untuk mengalahkannya. Namun demikian walaupun tubuhnya tidak dapat terluka apabila terus menerus digempur dari segala arah lama kelamaan Ki Gudig Basur kehabisan tenaga dan sehingga dapat dikalahkan oleh pasukan dari Majapahit.

    Dengan Gugurnya Ki Gudug Basur dan Ki Tambyak maka daerah Seseh, Tralangu, Padang Sambian, Kedonganan, Benua, jimbaran, Kuta, Mimba, Suwung, Sesetan, Tuban, Renon, Batankendal, Sanur, Tanjungbungkah, Kaba Kaba, Kapal, Tanah barak, Camagi, Munggu, Parerenan, Dukuh, Kemoning, Pandak, Kelahan, Pancoran, Babahan, Keliting, Cengkik dan Kerambitan dapat dikuasai oleh Prajurit Majapahit dibawah pimpinan Arya Kenceng.
    Sisa sisa langkar Bedahulu yang masih tersisa setelah mengalami kekalahan dalam pertempuran menyelamatkan diri dan mengungsi ke daerah Songan, Kedisan, Abang, Pinggan, Munti, Bonyoh, Tarobayan, Serahi, Sukawana, Panarajon, Kintamani, Pludu, Manikliu, dan ada pula yang mengungsi ke daerah timur seperti Culik, Tista, Margatiga, Muntig, Got, Garbawana, Lokasarana, Garinten, Sekul Kuning, Puhan, Hulakan, Sibetan, Asti, Watuwayang, Kadampai, Bantas, Turamben, Crutcut, Datah, Watidawa, Kutabayem
    Kemenangan Pasukan Majapahit di wilayah selatan yang dipimpin oleh Arya Kenceng melengkapi kemenangan pasukan Majapahit yang terlebih dahulu berhasil mengusai wilayah Utara dan Timur Pulau Bali sehingga praktis semua daerah pesisir Bali dapat dikuasai. Sekarang tinggallah Krian Pasung Grigis yang bertahan di desa Tengkulak di wilayah Bali Bagian Tengah.
    Krian Pasung Grigis adalah seorang yang sakti mandraguna, pemberani dan ahli perang, siasatnya licin, bisa lenyap seperti bayang bayang (maya maya). Menghadapi kenyataan ini patih Gajah Mada menjadi bingung, karena perintah Ratu Majapahit adalah menangkap hidup hidup Krian Pasung Grigis. Jangankan menangkap hidup hidup membunuhnya pun sangat sulit untuk dilaksanakan. Patih Gajah Mada berupaya mencari jalan untuk dapat mengalahkan Pasung Grigis.

    “ Kalau begini terus, aku tak akan pernah menang, dan itu berarti aku gagal mewujudkan cita citaku untuk mempersatukan Nusantara. Aku harus mencari akal bagaimana caranya agar Krian Pasung Grigis dapat ditangkap hidup hidup “
    Pada malam harinya Patih Gajah Mada mengumpulkan semua Arya dan pasukan untuk diajak berunding

    “ Para Arya dan punggawa semua, kalau kita berperang melawan pasukan Pasung Grigis rasanya kita tidak akan pernah menang. Pasung Grigis amat sakti dan sulit ditaklukkan oleh siapapun. Kita harus mencari jalan dan siasat yang tepat untuk menaklukkannnya. Saya Tahu kesaktian Pasung grigis akan lenyap bila hatinya dikuasai sifat tamah, lupa daratan, mati akan kesombongan hatinya. Oleh karena itu kita buat dia lupa daratan, bangga akan dirinya, keluar semua kesombongannya dan tipu dia supaya dia seolah olah ingkar janji. Pada saat ingkar janji itulah kesaktiaannya akan lenyap dan disanalah kita akan menangkap dia hidup hidup “

    Demikian Patih Gajah Mada mengemukakan pendapatnya dan mendapat persetujuan oleh segenap yang hadir. Keesokan harinya sesuai yang telah direncanakan, semua prajurit Majapahit serempak membalikkan senjata serta menaikkan bendera putih pertanda menyerah dan tidak akan mengadakan perlawanan, takluk pada keluasaan Krian Pasung Grigis. Melihat kenyataan tersebut betapa gembira hati Pasung grigis. Beliau tidak berfikit lebih lanjut mengapa secara tiba tiba pasukan Majapahit yang terkenal gagah berani menyerah dan takluk sebelum mengadalkan perlawanan. Beliau hanya menyangka musuh takut akan kesaktiannya.

    Demikian bangganya beliau akan kesaktiannya sehingga tidak seorangpun yang bisa mengalahkannya, beliau lupa bahwa diatas langit masih ada langit. Karena mungkin telah menjadi kehendak Dewata sehingga lenyap pertimbangan beliau dan tiada menyadari bahwa beliau telah terkena upaya licin dari Patih Gajah Mada. Beliau menjadi lupa bagaikan kena “sasirep” sehingga tidak menyadari bahaya yang mengancamnya. Seorang patihnya telah memperingatinya dengan penuh bijaksana

    “ Tuangku hendaknya berhati hati menghadapi musuh yang penuh tipu muslihat, bisa saja musuh sengaja memasang perangkap untuk menjebak tuanku. Kita harus waspada karena mereka yang tampaknya sangat kuat dan tidak pernah mengalami kekalahan dalam pertempuran tiba tiba menyerah tidak mengadakan perlawanan “

    Namun demikian nasehat dari patihnya tidak dihiraukan karena bangga akan kesaktian yang dimiliki

    “ Apa katamu patih, tipu muslihat, mereka benar benar tidak berani melawan aku,. takut akan kesaktian yang kumiliki “

    Demikian Krian Pasung Grigis berteriak teriak dengan sombongnya. Patihpun mundur teratur tidak berani mengeluarkan sepatah katapun. Hati Pasung Grigisa sudah diliputi rasa takabur akan kesaktian yang dimiliki.

    “ Suruh mereka semua menghadap dengan segera “

    Pasung Gerigis memerintahkan punggawanya untuk menemui pasukan dari Majapahit untuk dibawa menghadap ke Istana. Semua arya dan prajurit dari Majapahit mengikuti utusan dari Pasung Grigis untuk karang kepatihan. Rakyat di Tengkulak menyambut gembira kemenangan Kriyan Pasung Grigis dengan berpesta pora. Setibanya di sana para Arya dan punggawa dari Majapahit seperti tidak punya keberanian untuk memandang langsung wajah Pasung Grigis. Sambil mencakupkan tangan Patih Gajah Mada mempermaklumkan kekalahannya. Kata Patih Gajah Mada

    “ Prajurit gusti patih sangat gagah berani, apalagi gusti patih juga teramat sakti tiada seorangpun diantara kami semua yang dapat mengalahkan gusti Patih. Gusti memang benar benar tiada tandingannya di dunia ini.

    Dengan manisnya Patih Gajah Mada menyanjung Krian Pasung Grigis. Mendengar pujian tersebut tambah hilanglah kesadaran beliau, hatinya seperti diatas awan, lupa segalanya, hatinya sudah dikuasai rajah tamah, sehingga apapun yang akan diminta niscahya akan dikabulkan. Beliau tidak sadar akan perangkap yang dipasang oleh musuhnya.

    “ Ya kalian semua telah tahu akan kesaktian yang aku miliki, maka lebih baik kalian menyerah saja “

    Dengan bujuk rayu yang manis dan pujian pujian yang membuai pasung Grigis menjadi lupa daratan. Patih Gajah Mada mulai memasang perangkapnya yang licin untuk membuat Pasung Grigis ikar janji sehingga kesaktian yang dimiliki akan lenyap selamanya , karena itulah kelemahan dari Pasung Grigis yang dicari oleh Patih Gajah Mada.

    “ Ampunilah permintaan hamba kehadapan Gusti patih, karena hamba mendengar kabar bahwa gusti mempunyai seokor anjing yang cerdik, seekor anjing hitam yang menurut penuturan orang mengerti akan bahasa manusia, seperti layaknya sifat manusia. Apabila Gusti berkenan, hamba mohon dipanggilkan anjing itu dengan menjanjikan akan diberikan makanan. Hamba sangat ingin menyaksikan kecerdikan anjing itu.

    Demikianlah perangkap yang dipasang oleh Patih Gajah Mada. Dengan hati yang masih terbuai oleh sanjungan Krian Pasung Grigis segera berteriak memanggil anjingnya, ingin memamerkan kepintaran ajingnya. Anjing hitam tersebut segera muncul dengan membawa tempurung kelapa bundar (kau) dimulutnya, maksudnya supaya diberi makanan oleh majikannya. Setelah sampai di depan majikannya, Anjing itu tampat bersunggut sunggut karena tidak diberi makanan oleh majikannya. Tanpa disadarai ternyata Pasung Grigis telah berbuat ingkar janji kepada anjingnya, karena tidak memberi makanan sesuai yang dijanjikan sebelumnya. Melihat hal tersebut seketika bangkitlah Patih Gajah Mada seraya menuding Krian Pasung grigis.

    “ Hai Pasung Grigis ternyata engkau telah ingkar janji pada anjingmu, ingkar pada kata katamu sendiri dan karena telah disaksikan oleh Sang Hyang Triyodana Sakti semoga lenyaplah semua kesaktianmu. Sekarang bagaimana kehendakmu apakah akan mengadu ketangkasan denganku atau dengan salah satu patih atau punggawa yang ku bawa. Ayo angkat senjatamu hadapi aku sekarang juga.

    Krian Pasung Grigis membisu seribu basa, tidak disangka dirinya terkena tipu muslihat dari Patih Gajah Mada. Seketika itu beliau merasa tiada bertenaga lagi bagaikan telah terbang semua keberanian beliau, bagaikan terkena senjata Bajra yang dilepaskan Patih Gajah Mada. Dengan tiada harapan lagi Kryan Pasung Grigis akhirnya menyerahkan dirinya dan seluruh rakyatnya dibawah kekuasaan Majapahit.

    “ Baiklah aku menyerah, aku baru sadar bahwa kesombongan tidak akan mendapat retu dari para dewata. Dengan ini seluruh pulau Bali dibawah kekuasaan Majapahit “
    Demikianlah akhir perlawanan Kryan Pasung Grigis terhadap Majapahit dan selanjutnya Pasung Grigis dipenjaraan di Tengkulak. Dengan tertawannnya Pasung Grigis maka seluruh rakyat dan para pemuka Bali menyatakan tunduk dibawah kekuasaan Majapahit. Peristiwa penundukan Bali oleh Majapahit terjadi pada Tahun saka 1265 atau 1343 M. Pasukan Gajah Mada beserta para Arya merayakan kemenangan ini dengan suka cita.

    Dalam ekspedisi Majapahit ke Pulau Bali dapat diuraikan bahwa pasukan Majapahit dibawah pimpinan Patih Gajah Mada dan Arya Damar mengalahkan musuh musuhnya dengan caranya sendiri sendiri. Patih Gajah Mada dengan “Wiweka”nya (akal) sedangkan Arya Damar dengan mengandalkan “Kawisesan”nya atau ilmu magic yang dimilikinya sebagai pengikut setia aliran Bajrayana-Amoghapasa yang menyebabkan pahlawan dan prajurit Bali ketakutan dan menyerah.

    Dalam perayaan kemenangan tersebut tiba tiba muncullah utusan dari Ratu Majapahit Tri Bhuwana Tunggadewi yang bernama Kuda Pengasih yang tiada lain merupakan ipar dari Patih Gajah Mada, karena Kuda Pengasih adalah adik Ken Bebed , istri dari Patih Gajah Mada. Kuda Pengasih putra patih Matuwa diutus dari Majapahit untuk memantau langsung pasukan Majapahit dibawah pimpinan Patih Gaja Mada yang telah lama meninggalkan Majapahit. Kuda Pengasih menyaksikan pesta ria yang dilaksanakan untuk menyambut kemenangan yang baru saja diraih pasukan dari Majapahit dengan menundukkan Kryan Pasung Grigis.

    Kuda Pengasih kemudian menyampaikan pesan dari Ratu Tribhuwana Wijaya Tunggadewi yang isinya meminta apabila Bali telah berhasil ditaklukkan maka Patih Gajah Mada dan Arya Damar diminta kembali secepatnya ke Majapahit karena telah lama meninggalkan Istana Majapahit, akan tetapi para arya yang lain diperintahkan untuk tetap tinggal di Bali untuk menjaga keamanan Pulau Bali. Para Arya yang ditugaskan di Bali diantaranya :

    Arya Kenceng
    Arya Sentong
    Arya Beleteng
    Arya Kutawaringin
    Arya Belog
    Arya Binculuk
    Patih Gajah Mada menyanggupi hal tersebut namun meminta waktu untuk menempatkan para Arya yang akan mampu mempertahankan kekuasaan Majapahit di Pulau Bali. Maka pada tahun 1357 Arya Kresna Kepakisan dikirim ke Bali oleh Mahapatih Gajah Mada memimpin pasukan bantuan Majapahit untuk memadamkan pemberontakan 39 desa Baliaga dan setelah berhasil beliau diangkat sebagai patih agung / Mahapatih kerajaan Samprangan, mendampingi Sri Aji Kresna Kepakisan, raja Samprangan I. sementara para menterinya seperti Arya Kutawangin di Klungkung, Arya Kenceng di Tabanan, Arya Belog di Kaba-kaba, Arya Dalancang di Kapal, Arya Belentong di Pacung, Arya Sentong di Carangsari, Arya Kanuruhan di Tangkas, Kriyan Punta di Mambal, Arya Jrudeh di Tamukti, Arya Temenggung di Patemon, Arya Demung Wangbang Kediri yakni Kyai Anglurah Pinatih Mantra di Kertalangu, Arya Sura Wang Bang Lasem di Sukahet, Arya Mataram tidak tetap tempat tinggalnya, Arya Melel Cengkrong di Jembrana, Arya Pamacekan di Bondalem, Arya Gajah Para dan adiknya Arya Getas di Toya Anyar, Selain para Arya tersebut, ada yang kemudian datang yakni Tiga Wesya bersaudara : Si Tan Kober, diberikan tempat tinggal di Pacung, Si Tan Kawur diberi tempat tinggal di Abiansemal serta Si Tan Mundur berdiam di Cacahan.

  37. Panembahan Cetho
    kau baca dan simak baik baik isi lontar tersebut, saya adalah salah satu keturunan arya sentong…..kau ingat ramalan sabdo palon akan segera terujud. Hindu Dharma akan kembali tegak di Bumi Jawa…..

  38. Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.

    2.
    Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”

    3.
    Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.

    4.
    Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.

    5.
    Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.

    6.
    Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.

    7.
    Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.

    8.
    Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.

    9.
    Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.

    10.
    Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal.

    11.
    Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.

    12.
    Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.

    13.
    Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.

    14.
    Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.

    15.
    Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.

    16.
    Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi diriya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.

    • Semua kata yang ada dlontar banyak bhs kias dmana apabila anda salah memaknai akan lain artinya syokyanya anda punya pendanping unt meluruskan karena biasanya bhs kawi .ok q salut for wong mojopahit salam dari q wong gresik

    • Wong mojopahit salam dari gresik “assalamualaikum wr,wb.. Q membaca smua komentar temen2 memang ada perbedaan tp insyaallah klau perbedaan itu djadikan jalan unt menjadi 1 pasti titk temu sejara indonesia terungkap amin..ayo kt buka forum yg mendidik….klau itu kebutuhan gk usah cari menang sendiri ok

  39. Oleh Thomas Reuter

    Selama 1000 tahun, kerajaan2 Hindu subur di Jawa, sampai datangnya Islam di abad ke 15. Tetapi, di tahun 1970-an, bangkit kembali sebuah gerakan Hindu yg menyebar ke seluruh kepulauan Indonesia. Agama Hindu bahkan mendapat lebih banyak pengikut di saat negara sedang menghadapi berbagai krisis, terutama di Jawa, pusat politik di Indonesia.

    Berdasarkan riset etnografis atas lima kelompok masyarakat pada candi2 Hindu besar, tulisan ini menelaah sejarah politik dan dinamika sosial bangkitnya kembali agama Hindu di Jawa.

    Saya tertarik pada Jawa setelah melakukan penelitian selama 10 tahun di Bali. Kebanyakan masyarakat Bali menganggap diri mereka sebagai keturunan kaum ningrat kerajaan Hindu Jawa Majapahit yang menaklukkan Bali di abad ke 14. Jumlah orang Bali yang berziarah ke kuil2 Hindu di Jawa semakin bertambah. Malah mereka sering terlibat dalam pembangunan kuil2 dan pelaksanaan ibadah Hindu baru di Jawa. Mereka juga mendominasi perwakilan kaum Hindu di taraf nasional. Dan banyak pendeta2 Hindu Jawa yang dilatih di Bali.

    Hal yang paling mempengaruhi gerakan ini :

    1) Kebangkitan Agama Hindu dalam Konteks Sejarah dan Politik

    a)
    Banyak orang Jawa masih mempertahankan kepercayaan warisan tradisi Hindu selama berabad-abad sambil juga memeluk Islam. Kepercayaan ini dikenal sebagai agama Jawa (kejawen) atau Islam Jawa (Islam abangan, nama yg dipakai Geertz 1960). Beberapa kelompok masyarakat terpencil masih tetap memeluk Hindu secara terbuka. Salah satu kelompok ini adalah masyarakat Hindu yang tinggal di dataran tinggi Tengger (Hefner 1985, 1990) di Jawa Timur. Orang2 ‘Hindu’ Jawa yang ditulis di laporan ini adalah mereka yang tadinya Muslim dan kemudian murtad untuk memeluk agama Hindu.

    Laporan tahun 1999 yang tidak pernah diumumkan oleh Kantor Statistik Nasional Indonesia memperkirakan terdapat 100.000 orang Jawa yang secara resmi murtad atau ‘kembali lagi’ pindah dari Islam ke Hindu dalam waktu 20 tahun terakhir. Pada saat yang bersamaan, cabang organisasi Hindu (PHDI) Jawa Timur mengatakan bahwa umatnya bertambah sampai berjumlah 76.000 di tahun ini saja. Angka ini tidak sepenuhnya dapat dipercaya, dan tidak dapat pula menggambarkan besarnya kebangkitan agama Hindu di Jawa karena ini hanya berdasarkan nama agama yang tercantum di KTP dan hanya berdasarkan laporan agama resmi. Menurut pengamatan saya, banyak yang pindah agama tapi tidak melaporkan diri.

    Meskipun demikian, perhitungan jumlah orang Hindu di Jawa ternyata lebih banyak daripada orang Hindu di Bali. Data yang dikumpulkan secara independen selama penelitian saya di Jawa Timur menunjukkan bahwa tingkat cepatnya proses pindah agama melesat secara dramatis selama dan setelah jatuhnya Pemerintahan Rezim Suharto di tahun 1998.

    Sebelum tahun 1962, agama Hindu tidak diakui secara nasional sehingga orang2 beragama Hindu tidak bisa mencantumkan agama mereka secara resmi. [2] Permohonan pengakuan Hindu sebagai agama resmi diajukan oleh organisasi agama dari Bali dan dikabulkan di tahun 1962 demi kepentingan masyarakat Bali yang mayoritas adalah Hindu. Organisasi yang terbesar yakni Parisada Hindu Dharma Bali yang kemudian diubah menjadi PHD Indonesia (PHDI) di tahun 1964, berupaya untuk memperkenalkan Hindu secara nasional dan bukan hanya milik Bali saja (Ramstedt 1998).

    Di awal tahun 70-an, orang2 Toraja Sulawesi mengambil kesempatan ini dengan memeluk agama nenek moyang mereka yang banyak dipengaruhi oleh Hindu. Masyarakat Batak Karo dari Sumatra di tahun 1977 dan masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan di tahun 1980 juga melakukan hal yang sama (Bakker 1995).

    b)
    Identitas agama menjadi masalah hidup-mati saat agama Hindu memperoleh status resminya, yakni di saat terjadinya kerusuhan anti komunis di tahun 1965-66 (Beatty 1999). Orang2 yang tidak dapat menyebutkan agamanya digolongkan sebagai orang atheis dan dituduh komunis. Terlepas alasan politis ini, kebanyakan orang menganut Hindu karena juga ingin mempertahankan agama nenek moyang dan bagi masyarakat di luar Jawa, Hindu merupakan pilihan terbaik dibandingkan Islam. Sebaliknya, kebanyakan orang Jawa tidaklah melihat Hindu sebagai agama pilihan di saat itu karena kurang adanya organisasi Hindu dan juga karena takut pembalasan organisasi2 Islam besar seperti Nahdatul Ulama (NU). Anggota2 muda NU tidak hanya aktif membunuhi orang2 komunis tapi juga unsur2 Jawa Kejawen atau anti Islam yang banyak dianut Partai Nasionalis Islam milik Sukarno selama tahap pertama pembunuhan masal di jaman itu (Hefner 1987). Demi keslamatan nyawa, para pengikut Kejawen terpaksa mengumumkan diri mereka sebagai Muslim.

    Pada awal Orde Baru, Presiden Suharto tidak mengikuti paham agama apapun. Baru di tahun 1990-an, Suharto mulai mendekati organisasi2 Islam. Awalnya Suharto adalah pembela aliran Kejawen yang gigih, tapi ia lalu mengajukan tawaran2 kepada kelompok Islam di masa itu karena berkurangnya dukungan masyarakat dan militer terhadap rezimnya. Tindakannya yang paling jelas tampak pada dukungannya atas Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), yang anggotanya secara terbuka menginginkan negara dan masyarakat Islam Indonesia (Hefner 1997).

    Kekuatiran mulai tumbuh tatkala ICMI menjadi organisasi yang mendominasi birokrasi nasional dan melaksanakan program2 pendidikan Islam besar2an dan pembangunan mesjid2 melalui Departemen Agama dan sekali lagi menyerang aliran dan penganut Kejawen. Pada waktu yang sama, terjadi pembunuhan2 oleh ekstrimis Muslim atas orang2 yang dituduh sebagai dukun yang melakukan pengobatan tradisional Kejawen. (Ingat serentetan kasus pembunuhan dukun santet oleh ‘ninja’ yang terjadi di desa2 terpencil di Jawa?)

    Pengalaman2 pahit dan penindasan2 membuat para penganut Kejawen takut dan juga benci. Dalam wawancara yang dilakukan di tahun 1999, orang2 yang baru saja murtad dan memeluk Hindu di Jawa Tengah dan Timur mengaku bahwa mereka sebenarnya tidak keberatan dengan identitas Islam. Tapi mereka sakit hati saat harus meninggalkan tradisi Hindu Jawa dengan tidak lagi melakukan upacara2 tertentu yang sudah menjadi bagian hidup mereka. Untuk menyalurkan hasrat politik, banyak penganut Kejawen dan pemeluk baru agama Hindu yang menjadi anggota partai politik Megawati Sukarnoputri. Sumber2 keterangan dari kelompok ini menyatakan bahwa kembalinya mereka kepada agama Majapahit (Hindu) merupakan kebanggaan nasional dan ini diwujudkan melalui pandangan politik baru yang penuh rasa percaya diri..

    2)Kebangkitan Agama Hindu dalam Konteks Sosial dan Ekonomi

    Ciri2 umum yang tampak di masyarakat baru Hindu di Jawa adalah kecenderungan untuk berkumpul di pura2 yang baru saja dibangun atau candi2 kuno yang dinyatakan kembali sebagai tempat ibadah masyarakat Hindu. Satu dari pura2 Hindu yang baru dibangun di Jawa Timur adalah

    Contoh, Candi Mandaragiri Semeru Agung, di bukit dekat Gunung Semeru. Ketika candi ini selesai dibangun pd bulan Juli 1992 dengan bantuan keuangan Bali, hanya segelintir keluarga setempat secara resmi memeluk agama Hindu. Penelitian di bulan Desember 1999 menunjukkan masyarakat Hindu lokal berkembang menjadi lebih dari 5.000 keluarga.

    Perpindahan agama besar2an yang sama juga terjadi di daerah sekitar Candi Agung Blambangan yang merupakan candi baru yang dibangun di daerah sisa2 kerajaan Blambangan, pusat kekuatan politis Hindu terakhir di Jawa. Yang tidak kalah pentingnya adalah Candi Loka Moksa Jayabaya (di desa Menang dekat Kediri), di mana raja dan petinggi Hindu, Jayabaya, dipercaya mencapai moksa (kemerdekaan spiritual).

    Gerakan Hindu lain yang juga mulai tampak terjadi di daerah sekitar Candi Pucak Raung (di Jawa TImur) yang baru saja dibangun. Daerah ini disebut dalam sastra Bali sebagai tempat di mana begawan Hindu, Maharishi Markandeya, mengumpulkan pengikutnya untuk melakukan perjalanan ke Bali dan dengan itu membawa agama Hindu ke Bali di abad 5 M.

    Kebangkitan agama Hindu juga tampak di daerah Candi Hindukuno di Trowulan dekat Mojokerto. Daerah ini dikenal sebagai ibukota kerajaan Hindu Majapahit. Gerakan Hindu setempat berusaha untuk mendapatkan ijin menggunakan candi yang baru saja digali sebagai tempat ibadah agama Hindu. Candi ini akan dipersembahkan bagi Gajah Mada, perdana menteri Majapahit yang berhasil mengembangkan kerajaan Hindu kecil itu sampai meliput wilayah dari Sabang sampai Merauke.

    Meskipun terdapat lebih banyak pertentangan dari kelompok Islam di Jawa Tengah daripada di Jawa Timur, masyarakat Hindu ternyata juga berkembang di Jawa Tengah (Lyon 1980). Contohnya adalah di Klaten di dekat Candi Prambanan.

    Candi Prambanan

    Selain itu candi2 besar Hindu juga dapat mendatangkan kemakmuran baru bagi masyarakat setempat. Selain mengundang biaya bagi pekerja2, pelebaran dan perbaikan candi itu sendiri, mengalirnya peziarah Bali yang terus menerus ke candi2 nasional itu menciptakan suatu industri baru bagi penduduk setempat. Di sepanjang jalan utama menuju Candi Semeru terdapat sederetan hotel dan toko2 yang menawarkan sesajen siap pakai, angkutan, dan makanan bagi para pendatang. Pada hari2 raya besar, puluhan ribu peziarah akan datang setiap hari. Peziarah yang memberi sumbangan dana besar bagi candi besar itu juga ternyata menarik perhatian penduduk setempat. Kemakmuran ekonomi orang2 Bali juga membuat penduduk setempat berpendapat bahwa ‘budaya Hindu ternyata lebih banyak mendatangkan keberhasilan pariwisata internasional dibandingkan budaya Islam’.

    3) Kebangkitan Hindu sebagai Pemenuhan Ramalan Utopia (negara impian)

    Pihak pendukung dan penentang agama Hindu biasanya menghubungkan bangkitnya agama Hindu secara tiba2 di Jawa dengan ramalan terkenal Sabdapalon dan Jayabaya. Dalam ramalan itu dinyatakan beberapa utopia dan bencana alam dahsyat, meskipun pengertian akan ramalan ini berbeda antara kedua pihak.
    Harapan terpenuhinya ramalan itu merupakan cermin ketidakpuasan yang semakin membesar atas Pemerintahan Suharto yang korup dan tangan besi di tahun 1990-an sampai berakhir di tahun 1998, yang diikuti dengan demonstrasi mahasiswa di berbagai kota di Jawa sejalan dengan krisis ekonomi Asia. Krisis politik dan ekonomi yang lebih besar yang terus berlangsung di Indonesia saat ini juga semakin menumbuhkan harapan itu.

    Presiden Abdurahman Wahid, presiden Indonesia pertama yang terpilih secara demokratis, ternyata mengundang banyak kritik karena pada masanya terjadi pertentangan agama, pemberontakan di Aceh dan Papua Barat dan skandal korupsi di Pemerintahan. [3] Masyarakat luas menduga ketidakstabilan politik di bawah Pemerintahan Megawati Sukarnoputri (sejak tanggal 23 Juli 2001) akan terus berlangsung. Selain itu dikhawatirkan penindasan seperti yang terjadi di jaman Suharto akan terulang lagi. Menurut penentang dan pendukung gerakan baru agama Hindu, keadaan politik yang tak menentu saat ini sesuai dengan ramalan Sabdapalon dan Jayabaya.

    Menurut legenda, Sabdapalon adalah pendeta dan penasehat Brawijaya V, raja terakhir kerajaan Hindu Majapahit. Dikisahkan pula bahwa Sabdapalon mengutuk rajanya yang meninggalkan agama Hindu untuk memeluk agama Islam di tahun 1478. Sabdapalon lalu berjanji untuk kembali setelah waktu 500 tahun berlalu di masa merajalelanya korupsi politik dan bencana2 alam besar, untuk mengenyahkan Islam dari pulau Jawa dan membangkitkan kembali agama dan masyarakat Hindu Jawa.

    Beberapa candi Hindu baru yang pertama dibangun di Jawa memang selesai dibangun sekitar tahun 1978, misalnya Candi Blambangan di daerah Banyuwangi. Sesuai dengan ramalan, Gunung Semeru meledak di waktu itu pula. Semua ini dianggap sebagai bukti tepatnya ramalan Sabdapalon. Pihak penentang Hindu dari agama Islam menerima prinsip ramalan itu, meskipun menafsirkannya secara berbeda. Beberapa kalangan Islam menganggap murtadin yang memeluk Hindu disebabkan karena kelemahan sesaat dalam masyarakat Islam itu sendiri, dengan menyalahkan sifat materialisme di dunia modern dan turunnya nilai2 Islami atau karena penerapan Islam yang tak murni melalui tatacara ibadat Kejawen (Soewarno 1981). Menurut pendapat mereka, ‘kembalinya Sabdapalon’ berarti ujian bagi Islam dan perlunya memurnikan dan membangkitkan kembali iman Islam.

    Ramalan yang lain yang juga terkenal di seluruh Jawa dan Indonesia adalah ramalan Jayabaya. Buku tentang ramalan ini yang ditulis oleh Soesetro & Arief (1999) telah jadi best seller nasional. Ramalan Jayabaya juga seringkali didiskusikan di koran2. Ramalan2 kuno ini memang bagian dari percakapan dan diskusi sehari-hari dalam masyarakat Indonesia.

    Tokoh legendaris Sri Mapanji Jayabaya berkuasa di kerajaan Kediri di Jawa Timur dari tahun 1135 sampai 1157 M (Buchari 1968:19). Dia terkenal atas usahanya menyatukan kembali Jawa setelah pecah karena kematian raja sebelumnya, Airlangga. Jayabaya juga terkenal karena keadilan dan kemakmuran kerajaannya dan karena pengabdiannya bagi kesejahteraan rakyatnya. Jayabaya dikenal sebagai titisan dewa Wishnu dan dianggap sebagai ‘ratu adil’ yakni raja yang bijaksana yang muncul di jaman edan di akhir putaran tatasurya untuk menegakkan kembali keadilan sosial, keteraturan dan keseimbangan di dunia. Banyak yang percaya waktu datangnya sang ratu adil yang baru telah dekat (seperti yang disebutkan dalam ramalan itu, “jika kendaraan2 besi bergerak sendiri tanpa kuda2 dan kapal2 berlayar menembus langit“), dan ia akan datang untuk menyelamatkan dan menyatukan Indonesia kembali setelah krisis hebat yang mengantarkan kepada awal jaman keemasan yang baru.

    Dugaan terjadinya bencana besar dan utopia ini mengingatkan akan berakhirnya putaran tatasurya di masa kejayaan yang lampau untuk masuk ke jaman sekarang yang penuh kebobrokan moral, dan perlu diperbaiki kembali di masa depan dengan mengulangi kembali kejayaan di masa lampau.

    Orang2 Hindu Jawa mengenang Sabdapalon dan Jayabaya dgn penuh kebanggaan karena mewakili jaman keemasan sebelum Islam. Kalangan Islam sendiri sebaliknya percaya bahwa Jayabaya itu sebetulnya adalah seorang Muslim dan Sabdapalon tidak mau masuk Islam karena saat itu dia berhadapan dengan bentuk Islam yang salah dan tidak murni lagi (Soewarno 1981). Meskipun begitu, para penelaah ramalan dari pihak Muslim dan Hindu setuju bahwa sekaranglah masa terjadinya bencana hebat. Mungkin dalam bentuk reformasi politik besar2an dan mungkin pula sebuah revolusi. Kedua belah pihak juga setuju bahwa sistem pemerintahan demokrasi yang murni hanya dapat terlaksana dengan adanya pemimpin yang bermoral sangat tinggi yang mencampurkan kesadaran demokrasi modern dengan karisma kepemimpinan tradisional.

    Pengaruh ramalan Jayabaya tampak nyata pada diri masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan dan ini tampak pula dengan kunjungan2 rahasia yang dilakukan Presiden Abdurahman Wahid (sekali sebelum dia dicalonkan untuk jadi presiden dan sekali lagi sebelum dia terpilih) sewaktu menjabat ketua NU ke candi keramat Raja Jayabaya di Bali, Pura Pucak Penulisan. [4] Setelah kunjungan pribadi malam hari di pura Hindu kuno ini, demikian menurut pengakuan pendeta2 Hindu setempat, Gus Dur berbicara dengan mereka untuk waktu lama tentang ramalan2 Jayabaya dan kedatangan kembali ratu adil.

  40. ngaku pinter aja pada lu semua…
    kakek / nenek moyang kita emang pada sakti,
    jago mahat, jago ngukir, kebal senjata, jago santet… yg ga penting buat anak cucunya sekarang…
    3 stngah abad di jajah pantes lu banggain? mikir… klo otak lu masih di batok kepala lu?
    smpe skarang aja anak cucunya msih seneng brantem ama sebangsanya sendiri, kya lu pada… beda agama berantem, beda suku berantem, lama lama beda warna TAI bisa berantem juga..??

    ngerasa bener sendiri aja lu…
    malaysia ngeledek aja.. kita cma bisa ngata ngatain di facebook…
    klo emang turunan penakluk. bantai..!!! santet ke… kan mbah mbahnya dulu pada jago… ga diturunin emang ilmunya??

    lu cma bikin gua tmbah pesimis aj klo indonesia bisa maju..
    lu aja cma pada jago debat ama brantem doang…?

    nora’ lu semua..

  41. pada kemana ya? orang orang pinternya ga ada yg coment lagi..

    pinter ngomong doang sich ya?

    tong kosong nyaring bunyinya….

    makin w baca coment comentnya makin empet gw….
    jgn smpe negri ini di pimpin ama orang orang kaya lu…

    amit amit…..

    besok lu semua pada moto tai lu..
    trus posting di forum khusus (PERBEDAAN WARNA TAI YANG MEMBUAT KAMI MERASA LEBIH BENAR DARI YANG LAIN)
    w jamin lu lu semua bakalan tambah bergairah buat bikin komen…

    orang lu kaya tai semua….

  42. Klau gak tau sejarah belajar dlu gk usah asbun(asal bunyi)emang q hargai pendapat saudara2 tp etik en aturan djaga jangan smpai mencederai pihak lain(heri gresik)

  43. saya sangat yakin nenek moyang bangsa kita jawa, nusantara adlh bangsa beradab dan maju. Sy sgt mendukung pendapat ini smg trus dperbarui masalah ini agar kelak kita bnr2 mgetahui sejarah kita. Mksh mas infoy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: